News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

LSM Asing Dibalik Boikot Ekspor CPO

Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Massa yang tergabung dari Pemuda Penerus Amanat Proklamasi Republik Indonesia, Gerakan Mahasiswa Anti Neolib, dan Forum Mahasiswa Peduli Petani Sawit mendatangi Kantor Gubernur Riau Jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru, Rabu (14/4/2010). Mereka mengajak masyarakat Riau untuk memboikot produk Nestle dan Unilever sebagai balasan boikot Uni Eropa atas produk CPO Indonesia, khususnya dari kelompok Sinar Mas dan mereka juga mengutuk dugaan provokasi Greenpeace sehingga Uni Eropa memboikot CPO Indonesia.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kampanye LSM asing di Indonesia diduga tidak murni untuk kepentingan lingkungan. Ada dugaan misi LSM untuk membawa kepentingan industri minyak nabati yang menjadi andalan negara Amerika dan Eropa. 

"Tuduhannya  sama, yakni kerusakan lingkungan, pemanfaatan lahan gambut dan pelepasan limbah cair minyak sawit. Alasan mereka kelihatan sangat ilmiah.  Tetapi, asumsinya saja yang kurang tepat. Sehingga kita yakin, ada yang salah dalam dokumen mereka,’’ ujar Gumbira,  Guru Besar Teknologi Industri Pertanian IPB, Prof Gumbira Said kepada wartawan, Rabu (8/2/2012).

Ditegaskan, gerakan LSM asing membawa misi titipan dari industri minyak nabati di Amerika dan Eropa yang merasa terjepit pasarnya dengan perkembangan industri minyak sawit Indonesia. Dengan cara, menebarkan kampanye negatif tentang lingkungan yang dibidikkan langsung ke Indonesia.

“LSM asing itu seperti mempunyai kepentingan tertentu terhadap industri kelapa sawit Indonesia. Diperalat oleh sejumlah pengusaha besar Eropa yang merasa khawatir dengan perkembangan signifikan industri sawit kita,” kata Gumbira lagi.
 
Hingga 2011, lanjutnya, produksi CPO Indonesia  mencapai 22-23 juta ton per tahun. Namun, dalam catatan Gumbira, asing  memprediksi total produksi CPO Indonesia pada 2022 mencapai 31 juta ton per tahun. Kenaikan ini,  membuat resah industri nabati Amerika dan Eropa.

“Mereka khawatir biodiesel Indonesia akan kuasai dunia. Produktivitas kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lain. Industri kelapa sawit juga memiliki keunggulan dari segi efisiensi lahan," paparnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini