"Sebenarnya menjadi tanda tanya besar, apa alasannya itu (Pembubaran MK karena dinilai condong ke asing). Tapi itulah yang dinamakan dinamika, kalau saya tak mau menyebutkan, itulah politik. Karena minyak dan gas bumi tidak pernah bebas dari politik. Dalam skala kecil maupun skala besar Migas selalu kental dengan politik," kata Priyono.
Priyono dalam kesempatan itu juga menjelaskan, BPMIGAS melalui para karyawannya telah membuktikan profesionalitas yang mengerti industri migas. Ia menyebut, apapun nantinya BPMIGAS berganti nama atau wujud, lembaga semacam itu akan tetap dibutuhkan.
"Rumahnya masih diperlukan, apapun namanya. Dan tentu saja yang mengisi institusi tadi tidak bisa diambil dari pinggir jalan. Yuk, kita gabung yuk sama institusi apalah namanya, kita ambil dari Plaza Senayan, kita ambil dari Monas, tidak bisa," ujar Priyono.
Priyono juga menyebut pembubaran BPMIGAS sebagai dinamika politik jelang agenda besar di tahun 2014.
"Saya tidak mengatakan, bahwa ya inilah kalau mau ke 2014 ya seperti ini begitu. Tapi kita sudah melihat nuansa perubahan yang luar biasa," kata Priyono.
Video diakhiri oleh ujaran Priyono yang menyebut akan memperjuangkan hak profesional karyawan eks-BPMIGAS. Ujaran itu disampaikan Priyono sambil menangis. Seolah mempertegas kesedihan, video menampilkan backsound dan lirik lagu dari grup musik ABBA berjudul, "The Winner Takes It All,".
"Pemenang mengambil semuanya, ada hikmah di balik lagu itu. Siapa yang bakal jadi pemenang? Siapa yang akan mengambil semuanya? Apakah rakyat atau segelintir pihak atas nama nasionalisme yang didengungkan? Apa ini terkait Pemilu 2014? Lihat saja episode selanjutnya," kata sumber menutup tulisan.
Video BPMIGAS RIP klik di sini
Baca tanpa iklan