Soal lagu itu, sumber menyebut itu sebagai bentuk dukungan moril R Priyono terhadap para pegawainya yang resah gelisah karena pembubaran BPMigas dan tidak tahu apa yang terjadi masa depan. Priyono adalah korban konspirasi pembubaran BPMigas oleh para pihak yang mengusung jargon nasionalisme dalam melakukan aksinya meski sebenarnya ingin menguasai migas Indonesia.
Secara khusus, sumber juga menjabarkan, judical review yang diajukan atas UU Migas No 22 Tahun 2001 berujung pada keputusan MK yang menyatakan BPMIGAS merupakan lembaga yang inkonstitusional.
"Tapi justru menjadi pertanyaan, mana yang inkonstitusional? UU-nya kah, BPMIGAS-nya kah, atau malah Priyono-nya? Kalau UU-nya yang bermasalah, seharusnya, BPH Migas yang belandaskan UU yang sama dengan BPMIGAS, seharusnya juga dibubarkan. Jika BPMIGAS-nya yang bermasalah, lalu diganti SKK MIGAS, kemana pimpinannya yang dulu? Kenapa harus berganti baru? Jika Priyono yang bermasalah, kenapa BPMIGAS harus dibubarkan?" tulis sumber.
Pada narasi berikutnya, hadir tulisan "Orang bijak mengatakan: "..kebohongan yang diceritakan berulang-ulang akan menjadi sebuah kebenaran..". Sumber menyebut kalimat ini dimaksudkan betapa pihak yang ingin membubarkan BPMIGAS menggembar-gemborkan BPMIGAS berpihak pada asing. Check apa yang dikatakan para saksi ahli yang dipilih oleh Mahkamah Konstitusi dan siapa mereka ?
Sampaian-sampaian itu diulang di berbagai kesempatan. Secara tegas, sumber menyebut, kalimat ini ditujukan pada sejumlah pengamat per-migas-an yang menghendaki bubarnya BPMIGAS. Bahkan, kata sumber, sejumlah pakar itu menjadi saksi ahli dalam pada persidangan judicial review UU Migas, setahun silam.
Video dilanjutkan pada tulisan yang menyebut, "Lalu? Tak ada sebuah lembagapun yang dapat menentukan masa depan migas Indonesia! Kecuali rakyat, wartawan, dan pegawai eks-BPMIGAS sendiri. Merekalah yang sebenarnya penentu, apakah dan kemana migas Indonesia akan mengalir".
Atas kalimat itu, sumber menjelaskan, grand scenario pembubaran BPMIGAS juga melibatkan kalangan media. Hal itu terkait pada pemberitaan yang secara berulang menyebut BPMIGAS lebih condong pada pihak asing dalam pemberian kontrak kerja.
"Soal migas itu terkait tiga hal yaitu rakyat, media, dan pegawai BPMigas. Jika ketiga komunitas ini sudah melakukan konspirasi besar, melakukan politisasi demi kepentingan sebuah kelompok yang akan terjadi kemudian adalah sebuah negara akan hancur. Semua ada biayanya," tulisnya.
Tulisan yang muncul berikutnya pada video itu adalah, "Ini memang persoalan nasionalisme, namun bukan soal NEGARA tapi persoalan BANGSA. DEMI INDONESIA SATU TAK TERBAGI..."
Soal tulisan itu, sumber lugas menulis, pembubaran BPMigas adalah sebuah konspirasi. Pembubaran BPMigas bukanlah urusan negara, tetapi persoalan serius sebuah bangsa yang bernama Indonesia. Bangsa ini mau menghancurkan dirinya sendiri dengan mengatasnamakan nasionalisme. Meneriakan nasionalisme demi kepentingan sebuah kelompok kecil yang ingin menguasai migas. Maling yang ingin menjarah kekayaan negara dengan berteriak nasionalisme.
Tampilan berikutnya menunjukkan tulisan, "untuk sahabatku R. PRIYONO". Sumber menyebut, video itu memang didedikasikan untuk sahabatnya, Priyono. Meski begitu, sumber tak menyebut dari instansi mana ia berasal.
Video lalu dilanjutkan oleh tayangan foto-foto 'hari terakhir Priyono' di BPMIGAS, tepatnya saat ia menyampaikan pidato penutup pada para karyawan BPMIGAS saat itu. dalam pembukaan pidato, Priyono menyampaikan alasan pembubaran BPMIGAS oleh MK karena dianggap inkonstitusional.
"Artinya UU Migas pun sebenarnya gak konstitusional, berlawanan dengan UUD '45, katakanlah begitu. Padahal kita tahu bahwa UU Migas adalah produk dari reformasi. Reformasi menghendaki seperti itu. Ada check and balance dari berbagai instansi dan diperlukan -pada saat itu, saat reformasi- adanya BPMIGAS yang berfungsi sebagai wasit terhadap antar KPS, antara KPS dengan pemerintah, kemudian dengan DPR dan dengan stakeholder-nya, BPMIGAS jadi wasit," ujar Priyono saat itu.
Priyono juga menyampaikan sejumlah prestasi yang sudah dicapai BPMIGAS antara lain berhasil menekan turunnya lifting produksi minyak hingga 3 (tiga) persen pada 2008. Padahal, kata Priyono, saat BPMIGAS terbentuk, pihaknya diwarisi pengelola migas terdahulu dengan produksi yang terus turun hingga titik 12 persen sejak tahun 2006.
Priyono juga menyebutkan prestasi lainnya, antara lain karena profesionalitas karyawan BPMIGAS, lembaga itu diakui sebagai instansi yang prudence oleh BPK dan meraih predikat WTP selama tiga tahun berturut turut. Selain itu, BPMIGAS juga disebut selama lima tahun terakhir (2007 sampai 2012) mampu menjaga target penerimaan negara seperti yang telah ditargetkan.
Baca tanpa iklan