TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi mempertanyakan Poros Maritim yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Menurut Adhie, poros maritim telah digagas Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur.
"Mimpi Poros Maritim ini jenis mimpi di siang bolong atau punya makna. Gus Dur punya mimpi Maritim," kata Adhie diskusi "Membongkar Mimpi Poros Maritim Jokowi," di Bakkoel Coffee,Jakarta, Minggu (10/5/2015),
Ia menjelaskan dasar poros maritim sudah digagas founding fathers. Dimana saat terusan Suez dibuka maka para santri yang akan naik haji ke Mekah menaiki kapal selama berbulan-bulan sambil bercakap-cakap mengenai bangsa.
"Maka mimpi Gus Dur, langkah pertamanya mengangkat Panglima TNI dari Angkatan Laut," kata Adhie.
Sedangkan Presiden Jokowi yang menggagas Poros Maritim, kata Adhie, terdapat kesalahan dalam mengangkat Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Seharusnya Jokowi merekrut Menteri Kelautan dan Perikanan yang mengerti Dunia perkapalan. Contohnya, Korea dan Jepang yang maju dalam dunia maritim karena membuat kapal sendiri.
"Ini mengangkat Menteri Kelautan dan Perikanan dari pengusaha penerbangan itu salah," ujarnya.
Contoh lainnya, kata Juru Bicara Presiden era Gus Dur itu, paradigma Indonesia dipisahkan laut. Padahal harusnya Indonesia disatukan laut. "Orang takut ke laut karena Nyi Roro Kidul, laut harusnya dincintai bukan ditakuti," imbuh Adhie.
Selain itu, Pemerintahan Jokowi juga harus membangun industri kemaritiman. Jika terus mengimpor kapal maka tidak tumbuh budaya kemaritiman. Pasalnya, kata Adhie, poros Maritim bukan hanya menangkap ikan saja tetapi juga membangun budaya.
"Bangun poros Maritim tetapi masih terkonsentrasi industri di Jawa. Alat transportasi kapal hanya sedikit. Mimpi maritim tapi konsentrasinya ke darat. Di Indonesia belum juga membangun galangan kapal yang canggih," ujarnya.