Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Qodir
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bareskrim Polri terus mendalami pengusutan kasus permufakatan jahat pengepul dalam distribusi dan penjualan cabai rawit merah ke perusahaan pengguna.
Selain mengejar para pengepul lainnya, penyidik juga sedang mendalami sejumlah perusahaan pengguna bahan baku cabai rawit merah.
Mereka diduga terlibat konspirasi monopoli jual beli barang kebutuhan masyarakat ini.
Baca: TNI dan Polri Masih Buru Kelompok Penembak Ajudan Dandim di Papua
Sejauh ini, ada enam perusahaan di Jabodetabek yang terdeteksi menjadi pembeli dan pengguna cabai rawit merah milik petani dari pengepul.
Akibatnya secara tidak langsung mebuat harga cabai mahal di pasaran.
"Sementara yang terdeteksi enam perusahaan. Ada di Jakarta dan sekitarnya," ujar Kasubdit Industri dan Perdagangan Ditektorat II Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Kombes Pol Hengki Hariyadi.
"Kami sedang menginventarisir, karena ada tersangkanya yang masih dalam perjalanan," ucapnya dalam rilis pengungkapan kasus cabai di Bareskrim Polri, Gedung KKP, Jakarta, Jumat (3/3/2017).
Baca: Pelaku Pengedit Wajah Presiden Jokowi Ditangkap di Padang
Menurut Hengki, pihak perusahaan yang dengan sengaja terlibat praktik monopoli cabai bisa dijerat UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU Anti Monopoli).
Dia pun mengakui, saat ini penyidiknya masih mengumpulkan alat bukti tentang dugaan keterlibatan sejumlah pihak perusahaan dalam praktik monopoli cabai rawit merah.
"Pasalnya itu kami berkembang. Ada keterlibatannya engga dari perusahaan enggak? Kami tidak bisa asal menuduh. Nanti alat bukti enggak ada atau lemah, kami kalah. Jadi, kami periksa dulu mendalam kasus ini," ujarnya.
Diberitakan, Bareskrim Polri bersama Kementerian Pertanian dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) membongkar konspirasi jahat antara pengepul dan perusahaan pengguna cabai rawit merah.
Akibat permainan tersebut membuat harga komoditi masyarakat tersebut melejit hingga Rp 181 ribu/kg di pasaran sejak tahun lalu.
Baca tanpa iklan