News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pemilu 2019

KPPS dan Beratnya Beban Psikis Pemilu 2019

Penulis: Amriyono Prakoso
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

anggota keluarga petugas yang wafat dalam tugas penyelenggaraan Pemilu 2019 hadir pada acara silaturahmi bersama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (23/4/2019). Pada acara tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan penghargaan dan santunan kepada 49 pejuang demokrasi yakni petugas KPPS, anggota Polri, dan Linmas yang meninggal dalam tugas penyelenggaraan Pemilu 2019 di wilayah Jawa Barat. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)

Ditambah, petugas yang meninggal, sebagian besar berada di rentang usia lebih dari 40 tahun.

Sementara dalam Undang-Undang, memperbolehkan usia minimal 17 tahun untuk menjadi petugas.

Bukan untuk menyalahkan anak-anak muda, tetapi kata dia, waktu sosialisasi dan pemahaman pemilu sangat sempit.

"Jadi, petugas yang dipilih adalah mereka yang dituakan atau yang merasa mampu untuk menjabat KPPS," jelasnya.

Pengaju gugatan Pemilu Serentak, Effendi Ghazali menyuarakan hal yang serupa.

Hanya saja, Effendi lebih lantang mengatakan, kekacauan Pemilu 2019 hingga menewaskan para "pahlawan" itu karena keputusan MK yang mengabulkan Presidential Threshold dan anggota dewan yang menaruh pasal itu di dalam undang-undang Pemilu.

"Bukankah persoalannya lebih pada kelelahan mental petugas. Ini gara-gara Presidential Threshold, sehingga bangsa ini terbelah?" jelas dia.

Dari hal itu, mengakibatkan seolah semua hal tidak tepat waktu dan selalu dicurigai.

Mulai dari daftar pemilih, KPPS, surat suara, peran polisi, TNI dan Babinsa hingga tataran bawah.

Dirinya pun menegaskan dirinya pernah mengatakan sejak 2018 bahwa Pemilu Serentak sudah seharusnya dibatalkan.

Menyusul adanya putusan MK yang mengesahkan adanya Presidential Threshold di dalam UU Pemilu.

"Kami sudah sampaikan berkali-kali, apabila PT tidak dicabut, maka dalam konteks bangsa, amat terbelah. Jelas lebih baik Pemilu Serentak dibatalkan dan kembali seperti semula," tegas dia.

Menurut Pimpinan Bawaslu, Mochammad Afifudin, kejadian ini merupakan soal manajemen kepemiluan. Ada beban yang tidak dipikirkan oleh penyelenggara, tetapi praktik di lapangan menjadi berbeda.

Satu diantaranya adalah, beban saat logistik yang kurang dalam satu TPS.

Kata dia, hal itu bisa membuat stress petugas secara langsung.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini