News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Respons Pimpinan Komisi III DPR RI Sikapi Aksi Polisi Pamer Senjata

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Adi Suhendi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Viral video polisi kokang senjata

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba video tersebut dapat disebarluaskan di Twitter oleh sebuah akun, sehingga memancing pro dan kontra netizen.

"Saya melihat perbuatan Bripda GAP sebagai perbuatan iseng dan gaya-gayaan anak muda. Apalagi baru masuk jadi polisi dan mendapat tugas pengawalan sehingga diberi kewenangan membawa senjata. Meski hanya jadi status WA, tapi orang yang melihat dapat menganggap sebagai pamer," ungkap ‎Poengky dalam keterangannya, Jumat (15/5/2020).

Baca: Kasus Garuda Indonesia, KPK Banding Vonis Hakim terhadap Soetikno Soedarjo

Karenanya Poengky memandang sudah tepat Propam Polda Metro Jaya melakukan klarifikasi kepada yang bersangkutan.

Langkah kedepan, Poengky berpendapat Bripda GAP dan rekannya yang merekam perlu dibina dan diarahkan.

"Karena masih muda dan baru di Kepolisian, yang bersangkutan perlu dibina dan diarahkan untuk berhati-hati menggunakan atribut-atribut Kepolisian dalam penggunaan pribadi di WA atau media sosial lainnya. Meski dimaksudkan untuk konsumsi pribadi, tetapi pada masa kini dimana kemajuan teknologi demikian pesat, kita terkadang tidak mampu mengontrol media sosial kita sendiri," tegasnya.

Baca: Polisi di Jeneponto Langsung Serahkan Diri Usai Tembak Istri dan Anggota TNI

Dengan adanya kasus yang viral ini, Poengky menyebut seluruh anggota Polri perlu untuk terus mengingat bahwa ketika sudah menggunakan atribut lembaga, tidak boleh digunakan untuk iseng, main-main, gaya-gayaan, dan pamer.

Lebih lanjut dengan viralnya video di twitter, maka Bripda GAP berhak untuk melaporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro.

Poengky merasa adanya kritikan dari netizen pada video itu maksudnya baik agar polisi tidak arogan.

"Ingat, di masa kemajuan teknologi ini kita semua harus berhati-hati dan bijak dalam menggunakannya. Maka saya berharap kasus ini dapat diselesaikan dengan baik," katanya.

Poengky menambahkan ‎reformasi Kultural Polri masih berjalan. Apa yang terjadi ini menunjukkan masih pentingnya Reformasi Kultural Polri dipahami dan dilaksanakan oleh pimpinan dan seluruh anggota Polri, yaitu agar menghilangkan arogansi, pamer, kekerasan berlebihan.

Pimpinan dan anggota Polri harus lebih menunjukkan Polri yang profesional dan humanis.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini