News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Corona

Presiden: Dunia Sudah Masuk Resesi Ekonomi

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat gestur mengangkat tangan setelah menyampaikan kemungkinan reshuffle kabinet, dalam Sidang Kabinet Paripurna, Kamis (18/6/2020), diunggah Minggu (28/6/2020).

Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa Pandemi Covid-19 telah menyebabkan krisis tidak hanya di bidang kesehatan melainkan juga ekonomi.

Situasi yang dihadapi tersebut bukanlah perkara mudah karena terjadi hampir di semua negara.

Ekonomi dunia menurut presiden berkontraksi minus 6 sampai 7,6 persen. 

"Artinya apa ini global, dunia sudah masuk ke yang namanya resesi dan bahkan saya sampaikan tahun ini Singapura diprediksi minus 6,8 pesen, Malaysia minus 8, Amerika minus 9,7, inggris minus 5,4, Jerman minus 11,2, Perancis minus 17,2 Jepang minus 8,3," kata Presiden saat meninjau Posko Penanganan dan Penanggulangan Covid-19 Jawa Tengah (Jateng) di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Selasa, (30/6/2020).

Baca: Update 30 Juni: 582 Pasien Positif Covid-19 Dirawat di RS Wisma Atlet

Baca: Pemilik Mal Terbesar di Inggris Bangkrut Saat Krisis Corona Menghantam Bisnis Global

Baca: Kementan Antisipasi Ancaman Krisis Pangan

Oleh sebab itu menurut Presiden manajemen krisis harus dikelola dengan baik.

Penanganan masalah kesehatan harus paralel dengan penanganan dampak ekonomi.

Sehingga menurutnya selain bisa mengendalikan penyebaran Covid-19 , ekonomi masyarakat tidak  terpuruk.

"Inilah yang harus hati-hati mengelola, memanajemeni krisis ini agar urusan kesehatan dan ekonomi ini bisa berjalan beriringan," katanya.

Akibat Pandemi, menurut Presiden pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama turun dari kisaran 5 persen ke 2,97 persen.

Ia khawatir pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ke dua akan minus, karena semua aktivitas ekonomi terganggu.

"Karena kalau kita lihat sekarang ini yang namanya demand terganggu, supply terganggu produksi terganggu," pungkas presiden.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini