News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

100 Ahli Minta FCTC Ubah Pendekatan Pengendalian Tembakau

Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pengunjukrasa yang tergabung dalam Ikatan Senat mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) wilayah 4 menggelar aksi Hari Tanpa Tembakau Sedunia, di Anjungan Losari, Makassar, Sulsel, Minggu (1/6). Pelaksanaan aksi tersebut untuk menghimbau kepada pemeritah agar segera meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau (Framework Conventionon Tobaco Control) yang dicanangkan WHO dimana Indonesia merupakan negara ketiga terbesar pengguna rokok setelah Cina dan India. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR

Hal ini dibantah oleh para ahli, salah satunya Profesor Peter Hajek, Queen Mary University, Inggris.

"Hampir semua fakta dalam pernyataan (di laman tanya jawab) tersebut salah. Tidak ada bukti bahwa vape memiliki tingkat kecanduan yang tinggi. Tidak ada bukti bahwa vape meningkatkan risiko penyakit jantung atau yang dapat memiliki efek pada orang di sekitarnya. Sementara, ada bukti yang jelas bahwa vape membantu perokok berhenti,” ungkapnya dalam forum daring Science Media Centre, seperti dikutip pada Kamis (28/10/2021).

“WHO menjawab ‘tidak tahu’ ketika menanggapi pertanyaan mengenai tingkat risiko vape dibanding rokok konvensional. Padahal vape sudah jelas memiliki risiko yang lebih rendah. Ini menunjukkan bahwa WHO salah mengartikan bukti ilmiah yang sudah ada,” timpal Profesor John Britton, University of Nottingham, Inggris.

Dampaknya untuk Indonesia

Indonesia sendiri tidak menandatangani FCTC karena peraturan pengendalian tembakaunya merujuk pada PP Nomor 109 Tahun 2012.

Namun, seruan para ahli untuk mengadopsi pengurangan dampak buruk tembakau dalam upaya pengendalian tembakau tetap relevan untuk negara yang ingin mengurangi prevalensi perokok, termasuk dalam hal ini Indonesia.

Hal ini sejalan dengan pernyataan David Nutt, Guru Besar Imperial College, London.

“Vape dan snus (produk tembakau alternatif) memiliki potensi untuk menjadi kemajuan inovasi kesehatan abad ini. WHO harus mengambil kesempatan ini, bukan malah menghalanginya,” ujar Nutt pada forum daring The Counterfactual.

Saat ini produk tembakau alternatif sudah masuk ke Indonesia, tetapi belum ada regulasi yang mumpuni untuk mengoptimalkan manfaat produk tembakau alternatif ini.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini