Hal tersebut, kata dia, karena yang harus dikembangkan adalah sistem secara keseluruhan sebagaimana karakteristik perang generasi kelima yang mengedepankan sistem integrasi lintas matra dan lintas domain.
Teknologi yang akan berperan pada perang masa depan tersebut, kata dia, di antaranya artificial intelligence, big data, block chain dan antariksa.
Saat ini, kata dia, sejumlah angkatan bersenjata negara lain telah mengembangkan kekuatan matranya.
Negara-negara seperti Amerika Serikat, China, Rusia, bahkan Australia, kata Andi, saat ini angkatan bersenjatanya sudah memiliki enam sampai tujuh matra.
"Banyak negara-negara utama di dunia ini sekarang angkatan bersenjatanya sudah melampaui tiga matra, sekarang banyak angkatan udara yang cyber sudah jadi matra sendiri, komandannya bintang empat. Space sudah jadi matra sendiri, komandannya bintang empat," kata dia.
Andi berpendapat saat ini Indonesia juga tengah menuju ke arah sana.
Hal tersebut, kata dia, tampak dari bagaimana masing-masing matra di TNI telah memiliki satuan siber.
Namun demikian, Indonesia belum memang belum mulai untuk merambah domain space.
"Kita belum ke sana. Mungkin itu nanti akan kita mulai pada saat nanti Indonesia merencanakan menggelar satelit-satelit pertahanan, satelit-satelit militer ke depan dimulai dari sekarang," kata dia.