TRIBUNNEWS.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan sikap tegas kepada Prancis dan negara-negara Eropa agar tidak gentar menghadapi tekanan Israel dan Amerika Serikat dalam membela kemerdekaan Palestina.
Presiden Prancis Emmanuel Macron secara resmi menyatakan bahwa Prancis akan mengakui Negara Palestina dalam Sidang Umum PBB pada September 2025. Langkah ini menjadikan Prancis sebagai negara G7 pertama yang mengambil sikap tegas mendukung kemerdekaan Palestina di tengah tekanan dari Israel dan Amerika Serikat
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina adalah ujian moral dan kemanusiaan global.
Ia meminta Presiden Emmanuel Macron untuk tetap konsisten, tidak mundur, meski dihadapkan pada ancaman serius dari pihak yang menolak kemerdekaan Palestina.
"Jangan goyah karena dikecam oleh Israel dan Amerika. Bahkan mungkin saja Israel dan Amerika akan memberikan ancaman dan tekanan serius dengan berbagai cara kepada Prancis. Karena itu presiden Macron harus tetap teguh, jangan mundur," kata Sudarnoto dalam keterangannya kepada Tribunnews, Selasa (29/7/2025).
Selain itu, dia meminta, negara-negara Islam bersatu mendukung Palestina.
Menurut dia, negara-negara Islam dan negara lainnya perlu melakukan langkah yang lebih berani menghapus penjajahan Israel dan membela kemerdekaan Palestina.
"Indonesia juga perlu bersama Prancis dan semua negara pembela Palestina untuk perkuat diplomasi total dan intensif agar Israel mundur. Buka blokade dan masifkan bantuan kemanusiaan, merdekakan Palestina, dan rekonstruksi Gaza," jelasnya.
Agresi Israel atas Gaza dan Palestina, dikatakannya pada umumnya sangat memperkeruh dan memperburuk krisis kemanusiaan.
"Bahkan juga memperburuk suasana global apalagi nafsu Israel untuk menghancurkan Iran terus membara. Hal ini tidak saja akan merusak langkah-langkah gencatan senjata permanen dan perdamaian di kawasan yang selama ini telah diupayakan," ungkapnya.
Tetapi kata Sudarnoto, semakin membuktikan bahwa Israel secara terus menerus memang menghalangi kemerdekaan Palestina. Karena itu, berbagai upaya yang semakin sungguh sungguh-sungguh untuk menghentikan genosida, memaksa mundur tentara Israel dan keluar dari semua wilayah Palestina sangat darurat.
"Kemerdekaan Palestina baru bisa diwujudkan kalau semua tentara Israel keluar dari Palestina dan menghentikan serangan," tandasnya.
Macron menyebut keputusan Prancis mengakui Palestina ini sebagai bagian dari komitmen historis Prancis terhadap perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Timur Tengah, serta sebagai respons atas krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza. Ia menegaskan bahwa pengakuan kenegaraan Palestina adalah syarat penting untuk mengakhiri konflik dan membangun stabilitas kawasan.
Meski mendapat kecaman dari Israel dan penolakan dari Amerika Serikat, Macron tetap teguh pada pendiriannya. Bahkan, ia telah mengirim surat diplomatik kepada Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas sebagai bentuk konfirmasi resmi.
Langkah Macron ini disambut baik oleh berbagai pihak, termasuk Indonesia dan MUI, yang menyerukan agar negara-negara Muslim dan Barat lainnya mengikuti jejak Prancis demi memperkuat diplomasi global untuk menghapus penjajahan dan mewujudkan kemerdekaan Palestina
Baca tanpa iklan