Kedua,kejujuran dan amanah. Sebelum menjadi nabi, beliau sudah dikenal sebagai Al-Amīn (orang yang terpercaya). Julukan tersebut bahkan bukan diberikan oleh orang-orang yang sudah memeluk Islam, akan tetapi orang-orang Arab jahiliah pada masa itu. Tidak pernah sekali pun beliau berbohong, bahkan kepada musuhnya. Itulah mengapa “Shiddiq” sebagai salah satu sifat wajib bagi Nabi begitu melekat pada beliau.
Dalam bisnis, beliau jujur, tidak curang, dan selalu memberi informasi yang benar tentang barang dagangannya. Nabi selalu profesional menjalankan kehidupan niaganya sebagai manusia yang juga berlaku hukum ikhtiar kepadanya. Dan hal tersebutlah yang menjadikan Perniagaan yang dikelolanya.
Sidang Jemaah Jum’at rahimakumullāh,
Ketiga, kesabaran dalam ujian. Sejak belia, Nabi telah terbiasa hidup tanpa orang tua, masa-masa dimana sebagian teman sebayanya sedang menikmati indahnya mendapat belai kasih sayang dari kedua orang tua, Nabi tidak dapat sepenuhnya merasakan hal tersebut. Saat dewasa dan memiliki kemapanan hidup, Nabi atas perintah Allah diuji untuk mengorbankan semua yang dimilikinya untuk kepentingan agama Allah. Ketika dihina, difitnah, bahkan disakiti, beliau membalas dengan doa dan kebaikan. Bahkan pada saat di Thaif, beliau dilempari batu hingga berdarah, tetapi tidak membalas dendam. Kesabaran beliau menjadi teladan dalam menghadapi ujian hidup dengan hati yang lapang.
Keempat, kelembutan dan kasih sayang. Beliau menyayangi anak-anak, menyalami mereka, dan memangku cucunya saat khotbah. Suatu hari, Rasulullah saw sedang berkhotbah di masjid. Tiba-tiba, dari kejauhan, datanglah dua cucunya, Hasan dan Husain, yang masih kecil. Mereka berjalan tertatih-tatih sambil terbungkus baju panjang hingga hampir terjatuh. Melihat itu, Rasulullah saw langsung menghentikan khotbahnya. Beliau turun dari mimbar, menggendong keduanya, lalu kembali ke atas mimbar sambil tersenyum.
Anas bin Malik r.a., seorang sahabat yang mengabdi kepada Rasulullah sejak kecil, bercerita:
خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ وَاللهِ مَا قَالَ لِي: أُفًّا قَطُّ وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا .
"Aku telah melayani Rasulullah saw selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekalipun berkata 'ah' kepadaku, dan tidak pernah berkata kepadaku terhadap sesuatu yang aku lakukan: 'Mengapa kamu lakukan itu?' atau terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan: 'Mengapa kamu tidak melakukannya?'" (H.R. Muslim).
Keempat, ketegasan dalam prinsip. Dalam hal akidah dan kebenaran, beliau tegas dan tidak kompromi. Menolak tawaran harta, tahta, dan wanita dari kaum Quraisy jika harus meninggalkan dakwah.
Kelima, kepemimpinan yang adil. Nabi senantiasa memperlakukan semua orang dengan adil tanpa membedakan suku atau status sosial. Saat ada bangsawan Quraisy yang mencuri, beliau menolak memberikan perlakuan khusus:
وَايْمُ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا.
"Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya." (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).
Keenam, ibadah yang konsisten. Nabi bersyukur secara maksimal kepada Allah. Salat malam hingga kakinya bengkak. Selalu berzikir, berdoa, dan membaca Al-Qur’an. Nabi saw selalu menjadikan ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk kedekatan dan cinta kepada Allah.
Ma‘āsyiral muslimīn,
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang majemuk, kecintaan kepada Nabi Muhammad saw dapat diimplementasikan dengan berbagai cara yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Salah satunya adalah dengan meneladani akhlak mulia Nabi. Beliau adalah pribadi yang santun, pemaaf, dan penuh kasih sayang, tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi juga kepada non-muslim. Di tengah keberagaman Indonesia, kita perlu menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘ālamīn, yaitu Islam yang membawa kedamaian dan kasih sayang bagi seluruh alam.
Selain itu, menegakkan keadilan dan kejujuran juga merupakan bentuk nyata cinta kepada Nabi. Rasulullah saw dikenal sebagai pribadi yang amanah dan jujur. Dalam konteks modern, hal ini dapat diwujudkan dengan menjunjung tinggi integritas, bersikap antikorupsi, serta tidak berkhianat terhadap kepercayaan publik. Keteladanan ini sangat penting diterapkan dalam dunia kerja, pemerintahan, pendidikan, maupun kehidupan sosial sehari-hari.
Kecintaan kepada Nabi juga tercermin dalam upaya menghidupkan semangat persatuan. Nabi saw telah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar sebagai contoh nyata persaudaraan atas dasar iman. Maka di Indonesia, kita harus menghindari perpecahan karena perbedaan suku, mazhab, atau pilihan politik, dan lebih fokus pada membangun kemaslahatan bersama. Persatuan menjadi kunci utama dalam menjaga keutuhan bangsa yang beragam.
Baca tanpa iklan