Survei terkini menunjukkan bahwa antikorupsi adalah isu yang paling membuat anak muda Indonesia marah. Sebagai contoh kasus korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang di PT Pertamina, Sub Holding, dan kontraktor kerjasama yang berlangsung dari 2018 hingga 2023. Kerugian negara diperkirakan hingga Rp 193,7 triliun dalam satu tahun, dengan total kerugian mencapai triliunan rupiah selama lima tahun. Kasus ini melibatkan pejabat tinggi Pertamina dan swasta, dan juga penyelidikan suap terhadap hakim terkait vonis kasus ini. Hal ini mengakibatkan kemarahan serta kegelisahan mendalam terhadap praktik korupsi yang menggerogoti keadilan dan kesejahteraan rakyat. Pemuda masa kini menuntut transparansi, akuntabilitas, dan integritas dalam tata kelola
pemerintahan, nilai-nilai yang sejalan dengan sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Hal ini tentunya berkelindan dengan isu kemiskinan, ekonomi, dan ketenagakerjaan yang juga menjadi perhatian serius generasi muda. Tingginya animo masyarakat terhadap lowongan pekerjaan, seperti Job Fair di Bekasi pada Mei 2025 sempat menjadi ricuh. Hal ini merupakan refleksi tingginya angka pengangguran, ketimpangan akses pendidikan dan kesehatan, serta kesenjangan ekonomi antarwilayah menuntut solusi inovatif dan partisipatif dari pemuda. Semangat Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan dan gotong royong adalah kunci untuk mengatasi tantangan struktural ini.
Permasalahan selanjutnya di era digital saat ini adalah pemuda Indonesia menghadapi paradoks: di satu sisi, teknologi membuka peluang kolaborasi dan inovasi; di sisi lain, ancaman hoaks, polarisasi, dan fragmentasi sosial menggerus rasa persatuan. Perlu ada semangat nasionalisme digital yang menjadi sangat strategis dilakukan. Hal ini mendorong pemuda agar dapat memanfaatkan media digital untuk memperkuat identitas kebangsaan, menyebarkan nilai-nilai Pancasila, dan membangun narasi positif tentang Indonesia.
Permasalahan selanjutnya di tahun 2025 ini adalah krisis iklim yang bukan lagi menjadi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang harus dihadapi setiap hari. Banjir, kekeringan, kebakaran hutan, hingga naiknya permukaan laut adalah bukti nyata dampak perubahan iklim yang mengancam kehidupan. Pemuda Indonesia, sebagai garda terdepan dalam upaya mitigasi dan adaptasi, memiliki peran krusial dalam mengatasi krisis ini. Dengan kreativitas, akses terhadap teknologi, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi, pemuda dapat menjadi motor penggerak gaya hidup berkelanjutan dan inovator solusi digital untuk lingkungan.
Kearifan Lokal: Cerminan Nilai-Nilai Sumpah Pemuda
Indonesia adalah bangsa yang kaya akan kearifan lokal, dan salah satu contoh terbaik adalah nilai-nilai luhur yang tumbuh dalam masyarakat yang selaras dengan semangat Sumpah Pemuda dan Pancasila.
Tradisi di Bali yaitu Ngayah adalah tradisi gotong royong khas Bali yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan upah. Dalam konteks keagamaan, adat, dan sosial, masyarakat Bali saling membantu dalam berbagai kegiatan mulai dari membangun pura, membersihkan lingkungan, hingga membantu persiapan upacara adat.
Semangat Ngayah adalah manifestasi nyata dari nilai Persatuan Indonesia dan Gotong Royong yang menjadi jiwa Pancasila. Dalam masyarakat yang semakin individualistis, nilai Ngayah mengingatkan kita bahwa kebersamaan dan pengabdian untuk kepentingan bersama adalah fondasi kokoh bagi kehidupan berbangsa.
Sebagai perbandingan, contoh kearifan lokal yang serupa berasal dari daerah lain, misalnya gotong royong di masyarakat Jawa atau Mapalus di Sulawesi Utara. Mapalus adalah tradisi saling membantu secara sukarela dalam masyarakat untuk menyelesaikan pekerjaan bersama, seperti bertani atau membangun fasilitas umum. Tradisi ini juga menekankan kebersamaan dan solidaritas sosial yang sejalan dengan nilai-nilai persatuan dan kerja sama yang terkandung dalam Sumpah Pemuda dan Pancasila
Pesan Abadi Bung Karno: Warisi Apinya, Bukan Abunya
"Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air. Tapi ini bukanlah tujuan akhir."
Pesan ini sangat relevan bagi generasi muda hari ini. Sumpah Pemuda bukanlah titik akhir perjuangan, melainkan titik awal. Persatuan yang telah dicapai harus terus diperkuat dan diarahkan menuju tujuan yang lebih besar: mewujudkan masyarakat adil dan makmur, Indonesia yang maju dan sejahtera.
Api Sumpah Pemuda adalah semangat revolusioner yang tidak pernah padam. Api itu harus terus menyala, menerangi jalan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan, dari korupsi hingga ketidakadilan, dari kemiskinan hingga degradasi lingkungan.
Baca juga: Hari Kesaktian Pancasila: Bung Karno, Spirit Antielitisme dan Harapan Membangun Indonesia Baru
Selain itu, Bung Karno juga mengingatkan:
Baca tanpa iklan