Ringkasan Berita:
- Ahli media sosial Fahmi Ismail menjelaskan bahwa viralnya video anggota DPR RI berjoget saat sidang tahunan merupakan fenomena context collapse, yaitu ketika video asli digabung dengan narasi yang tidak sesuai hingga memunculkan persepsi keliru di publik.
- Ia menegaskan, konten semacam ini sering digunakan untuk menggugah emosi tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ahli Media Sosial Fahmi Ismail menyatakan, sebaran konten yang menampilkan kondisi para anggota DPR RI berjoget ria saat sidang tahunan MPR/DPR/DPD RI merupakan fenomena Context Collapse.
Dalam lingkup media sosial, konten dengan jenis Context Collapse memang marak dilakukan, namun kata dia, model konten tersebut yang memang bisa dengan mudah menggugah perasaan pemirsanya.
Pernyataan itu disampaikan oleh Fahmi saat dihadirkan sebagai ahli dalam sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI terhadap lima anggota DPR RI nonaktif.
Mulanya, tim sekretariat MKD DPR RI menampilkan beragama cuplikan video dengan narasi saat para anggota DPR RI berjoget ria di sidang tahunan.
Video tersebut yang membuat masyarakat Indonesia merasa tersakiti oleh tindakan Anggota DPR yang dinilai tidak merasakan penderitaan rakyat.
Baca juga: Momen Ahli Media Sosial dan Wartawan Senior yang Meliput di Parlemen Beri Keterangan Sidang MKD
"Tetapi dalam konteks saya sebagai ahli media sosial, yang saya bisa sampaikan adalah bagaimana fenomena itu dilakukan. Bagaimana sebuah konten itu seperti yang contoh yang tadi kita lihat, itu sudah di-alterasi, sudah diubah, ya. Perkara nanti apakah ini melanggar aturan atau tidak, ini bukan bagian saya, ya," kata Fahmi saat di ruang sidang MKD DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (3/11/2025).
"Contoh kayak tadi misalnya yang kita lihat, itu ada istilah yang namanya context collapse," sambung dia.
Fahmi lantas menjelaskan maksud dari konten Context Collapse tersebut.
Kata dia, Context Collapse merupakan metode penggabungan antara video original saat keadaan terjadi dengan narasi-narasi yang dominan tidak sesuai.
Dalam persoalan anggota DPR RI ini kata dia, banyak pengguna media sosial yang menggunakan video para anggota DPR RI sedang berjoget namun dengan narasi menyulut emosi rakyat.
Menurut dia, anggota DPR RI berjoget didasarkan pada lantunan musik yang dimainkan dalam acara sidang tahunan.
Namun banyak narasi yang tersiar, para anggota DPR RI berjoget karena adanya kenaikan gaji dan tunjangan mencapai hingga Rp100 juta.
"Tadi video yang terakhir sebetulnya sudah agak benar cuma narasinya agak beda. Videonya lengkap, anggota dewan karena memang lagi ada musik, ikut menghargai, ikut dancing. Itu sama seperti saya lihat tadi juga potongan ketika di depan Istana Negara ketika 17 Agustus, semuanya pada nyanyi, happy semuanya di situ. Nah, itu konteks aslinya," ucapnya.
"Ketika itu disajikan dengan konteks yang lain, dengan narasi yang lain, 'Lihat, anggota dewan joget-joget karena gajinya naik'. Nah, ini namanya ada dua konteks yang berbeda, satu gaji naik, satu lagi karena joget, ketika disambungkan itu collapse, saling numpuk," jelas Fahmi.
Baca tanpa iklan