Ringkasan Berita:
- Kelompok ekstremis mengeksploitasi permainan daring seperti PUBG dan Roblox untuk merekrut para teroris.
- Mereka terutama menargetkan kaum muda yang rentan
- Perekrut menggunakan profil palsu untuk menyebarkan ideologi kekerasan.
- Negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia menghadapi peningkatan kasus pemuda yang teradikalisasi melalui platform game
- Hal ini memicu seruan untuk membuat regulasi yang lebih ketat dan pendidikan literasi digital.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Platform game online atau permainan daring seperti PUBG, Battlegrounds hingga Roblox telah menjadi taman bermain digital bagi jutaan anak muda di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Para pengamat mengatakan jaringan ekstremis di seluruh Asia Tenggara telah mengubah ruang-ruang permainan ini menjadi saluran radikalisasi.
Mengalihkan taktik perekrutan mereka dari platform media sosial ke dunia imersif tempat kaum muda menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari.
Dengan membaur dengan lingkungan ini, mereka berinteraksi langsung dengan pemain gim online.
Sekaligus para ekstrimis ini menyebarkan ide-ide kekerasan atau eksklusivisme dengan cara yang terasa kasual dan tersembunyi, menutupi narasi berbahaya dalam permainan biasa.
Ancaman tersebut telah terwujud dalam insiden baru-baru ini di seluruh wilayah.
Pemerintah Indonesia dan Malaysia meninjau apakah permainan ini memerlukan pembatasan baru.
“Platform permainan yang populer di kalangan anak muda, memiliki kapasitas untuk menormalkan kekerasan dalam kehidupan nyata melalui simulasi pelatihan virtual,” kata Dr. Mustafa Iz-zuddin, analis senior urusan internasional di konsultan kebijakan dan bisnis Solaris Strategies Singapura seperti dikutip dari Strait Times, Sabtu (22/11/2025).
“(Oleh karena itu), kelompok ekstremis atau teroris telah secara aktif memanfaatkannya untuk memperkuat pengaruh dan meningkatkan perekrutan mereka.”
Kelompok teroris telah menunjukkan “kemampuan beradaptasi yang luar biasa” untuk merekrut teroris.
Perekrut menggunakan profil dan identitas palsu saat bermain dan ikut terlibat dalam gim online.
Kata Dr Mustafa, yang juga merupakan profesor tamu hubungan internasional di Universitas Islam Indonesia.
Para ekstrimis ini menguasai mental psikologis para anak-anak muda yang sedang bermain gim online, terutama bagi mereka yang kesepian.
Pola baru perekrutan teroris
Ini diduga merupakan pola baru dalam perekrutan anak-anak dan pelajar ke dalam jaringan terorisme dengan memanfaatkan gim online.
Karopenmas Polri Brigjen (Pol) Trunoyudo Wisnu Andiko sebelumnya mengatakan, dari asesmen Polri, faktor psikologis dan sosial anak juga memengaruhi proses perekrutan.
Misalnya anak-anak yang kurang perhatian orangtua atau berasal dari keluarga broken home.
“Modus rekrutmen anak dan pelajar dengan memanfaatkan ruang digital, termasuk di antaranya media sosial, gim online, aplikasi perpesanan instan, dan situs-situs tertutup,” kata Karopenmas Polri Brigjen (Pol) Trunoyudo Wisnu Andiko dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Ancaman nyata
Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSRec) sekaligus pengamat teknologi, Pratama Persadha, menilai ada banyak pola dan celah yang dimanfaatkan perekrut teroris lewat dunia digital, termasuk gim online.
Menurut Pratama, apa yang terjadi saat ini merupakan fenomena ancaman yang berevolusi.
Menurut dia, menangani ancaman dalam ekosistem digital modern adalah hal yang paling sulit ditangani.
“Ruang permainan daring yang awalnya dibangun sebagai sarana hiburan, komunikasi, dan kolaborasi lintas negara telah berubah menjadi ruang sosial baru yang memungkinkan interaksi anonim, intens, dan tanpa batas,” jelas Pratama.
Di tengah ekosistem virtual ini, kelompok teroris dinilai melihat peluang besar untuk menyusup, membangun kepercayaan, dan menanamkan narasi ekstrem secara perlahan tanpa menimbulkan kecurigaan.
“Gim online bukan lagi sekadar platform bermain, tetapi telah menjadi medium komunikasi yang memadukan percakapan suara, pesan teks, hingga ruang komunitas privat yang relatif sulit dipantau oleh penegak hukum,” jelas Pratama dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Pelaku ABH Ledakan SMAN 72 Beli Bahan Bom Lewat Marketplace, Ngakunya Buat Ekskul
Bagaimana cara perekrutan?
Pratama mengatakan bahwa kelompok teroris memanfaatkan karakteristik unik dunia game.
Kelompok teroris beroperasi dengan pendekatan human-centric, yakni mendekati pemain muda yang sedang berada dalam fase pencarian identitas, rentan terhadap bujukan emosional, dan terbiasa membangun hubungan digital tanpa mengenali risiko.
“Proses radikalisasi dilakukan secara bertahap, mulai dari membangun kedekatan dalam tim permainan, memanfaatkan ruang obrolan privat, hingga mengarahkan target bergabung ke platform lain yang lebih tertutup untuk melanjutkan proses indoktrinasi,” ujar Pratama.
Dalam beberapa kasus luar negeri, Pratama bilang, percakapan di dalam gim bahkan digunakan untuk menyamarkan instruksi logistik atau koordinasi tindakan ilegal.
“Meskipun belum banyak kasus yang terpublikasi secara terbuka di Indonesia, pola ancaman seperti ini telah diperingatkan oleh berbagai lembaga keamanan internasional dan tidak dapat dipandang remeh,” lanjutnya.
Sumber: Straits Times/Kompas.com
Baca tanpa iklan