Kondisi ini, diperkuat oleh keberadaan Siklon Tropis Senyar yang menarik uap air dalam jumlah besar dan memusatkan presipitasi di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Meski begitu, curah hujan ekstrem bukan satu-satunya penyebab. Sebab, Topografi juga berperan.
Dijelaskan Annisa, sebagian besar wilayah terdampak berada di dataran rendah dan hilir Daerah Aliran Sungai (DAS), area yang secara alami menjadi tempat berkumpulnya aliran air dari daerah lebih tinggi.
“Bencana banjir Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh kemarin sebagian besar area yang terdampak itu daerah yang jauh dari area pegunungan,” jelasnya, Kamis (4/12/2025).
Proses tersebut, diperparah oleh kondisi tanah. Di beberapa lokasi, jenis tanah didominasi material lempung yang sulit menyerap air.
Selanjutnya, Annisa menyebut, pendangkalan sungai ikut memperparah situasi.
Sedimen yang terbawa dari hulu, sampah rumah tangga, hingga perubahan bentuk badan sungai menyebabkan debit air cepat melampaui kapasitas sungai.
4. Analisis dari IPB
Analisis dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, mengatakan kondisi cuaca belakangan ini tergolong tidak biasa.
Fenomena yang terjadi di Sumatra, bisa dipicu siklon tropis yang terbentuk sangat dekat dengan garis ekuator.
“Tahun ini agak menarik perhatian para meteorologis karena siklon tropis terjadi di dekat ekuator, bahkan di bawah lintang 5 derajat,” ucapnya.
Dikutip dari www.ipb.ac.id, fenomena ini dikenal sebagai Siklon Tropis Senyar, yang interaksinya diperkuat oleh beberapa sistem atmosfer lain.
“Ada interaksi menarik antara Siklon Tropis Senyar, gelombang Ekuatorial Rossby, Madden Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 6 di Pasifik Barat tropis, IOD, serta La Niña yang intens karena termodulasi aktivitas sunspot,” beber Sonni.
Diterangkan Sonni, La Nina dan IOD yang ditandai menghangatnya suhu muka laut dapat memberikan pasokan uap air berlimpah.
Hal tersebut, merupakan syarat awal terbentuknya depresi tekanan yang kemudian dapat berkembang menjadi bibit-bibit siklon tropis dan pada akhirnya tumbuh menjadi siklon tropis.
Kehadiran gelombang Rossby Ekuator dan MJO ini, dapat menguatkan konvergensi dalam fasa genesis siklon tropis.
Kondisi tersebut, lantas membentuk awan-awan Cumulonimbus dalam jumlah besar dan memicu hujan ekstrem berkepanjangan di Sumatra.
Pada saat bersamaan, wilayah Indonesia juga berada dalam pengaruh dua bibit siklon dan Siklon Tropis Fina. Sehingga risiko bencana hidrometeorologi meningkat.
(Tribunnews.com)
Baca tanpa iklan