Kini, sebagai salah satu organisasi perempuan terbesar di Indonesia, DWP memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional.
Ruang geraknya juga diperkuat oleh UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan, yang mengatur kewajiban ormas dalam menjaga persatuan bangsa, memelihara nilai-nilai luhur, dan berkontribusi bagi tujuan negara, serta menetapkan sumber pendanaan yang sah bagi keberlangsungan organisasi.
2. International Civil Aviation Day (Hari Penerbangan Sipil Internasional)
Perjalanan sejarah Hari Penerbangan Sipil Internasional dimulai pada 1944, ketika 54 negara berkumpul di Chicago untuk merumuskan aturan dasar penerbangan sipil dunia, dikutip dari National Day.
Pertemuan besar ini menghasilkan Konvensi Chicago, sebuah dokumen penting yang mengatur tata kelola penerbangan internasional.
Dari konvensi tersebut lahirlah lembaga khusus, yaitu International Civil Aviation Organization (ICAO), yang bertugas mengawasi standar keselamatan, koordinasi rute udara, dan kerja sama antarnegara dalam bidang aviasi.
Memasuki tahun 1994, ICAO mencapai usia emasnya yang ke-50. Untuk menandai setengah abad kontribusi di sektor penerbangan, ICAO menetapkan bahwa 7 Desember diperingati sebagai International Civil Aviation Day.
Peringatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global mengenai peran besar penerbangan sipil dalam memajukan dunia, mulai dari mobilitas manusia, perdagangan internasional, hingga pertumbuhan ekonomi.
Dua tahun setelahnya, yaitu pada 1996, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi khusus yang secara resmi menetapkan 7 Desember sebagai Hari Penerbangan Sipil Internasional.
Sejak saat itu, tanggal ini diperingati oleh seluruh negara anggota PBB sebagai momentum untuk menyoroti pentingnya penerbangan sipil yang aman, terhubung, dan berkelanjutan.
3. National Letter Writing Day (Hari Menulis Surat Nasional)
Tradisi menulis surat memiliki akar panjang dalam sejarah, terutama di Eropa pada abad ke-18 hingga 19, ketika surat menjadi sarana komunikasi utama yang mencerminkan kehalusan bahasa dan etika berkorespondensi, dikutip dari daysoftheyear.com.
Pada masa itu, kebiasaan menulis surat berkembang pesat dan dianggap sebagai keterampilan penting dalam kehidupan sosial.
Kebiasaan ini kemudian menyebar ke Amerika Serikat, terlebih setelah Kongres Kontinental mendirikan layanan pos nasional pada tahun 1775.
Kehadiran sistem pos yang teratur membuat surat menjadi medium komunikasi yang dapat diandalkan, baik untuk urusan pribadi maupun kepentingan negara.
Namun, memasuki era digital, kebiasaan menulis surat menurun drastis akibat kemunculan email, pesan instan, dan media sosial.
Meski demikian, banyak komunitas literasi dan pecinta seni korespondensi berupaya menghidupkan kembali tradisi ini.
Baca tanpa iklan