TRIBUNNEWS.COM, MOROWALI - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Morowali, Gladius Alfonsus, mengungkapkan bahwa kesejahteraan masyarakat Morowali terus menunjukkan peningkatan seiring menggeliatnya industri manufaktur di daerah tersebut.
Hal itu tercermin dari membaiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta meningkatnya pengeluaran riil per kapita masyarakat.
Ia menjelaskan, IPM merupakan indikator untuk melihat dampak pembangunan terhadap kualitas hidup masyarakat.
"IPM ini memberikan gambaran seberapa bagusnya dampak investasi itu apakah sejalan dengan pembangunan manusianya,” kata Gladius kepada Tribunnews.
Menurut Gladius, komponen IPM mencakup sektor kesehatan melalui angka harapan hidup, sektor pendidikan melalui harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah, serta sektor ekonomi melalui pengeluaran riil rumah tangga.
Data BPS menunjukkan IPM Morowali terus meningkat sejak 2013. Pada 2013 IPM Morowali berada di angka 66,86 dan pada 2014 sebesar 67,91.
“Sebelum [ada] IMIP (PT Indonesia Morowali Industrial Park), pada 2013 kita di 66,86, terus meningkat sampai 2024 74,36 IPM-nya,” ujar Gladius.
Lebih lanjut, IPM Morowali tercatat sebesar 69,12 pada 2015, meningkat menjadi 69,69 pada 2016, lalu 70,41 pada 2017, dan 71,14 pada 2018.
Kemudian pada 2019 tercatat sebesar, 72,02, 73,06 pada 2020, 73,13 pada 2021, 73,39 pada 2022, 73,82 pada 2023, dan kembali naik ke level 74,36 pada 2024.
Ia menambahkan, dari seluruh komponen IPM, variabel ekonomi menjadi yang paling dinamis perubahannya. Menurut dia, variabel kesehatan dan pendidikan cenderung berubah secara perlahan.
Baca juga: Capai 87 Ribu, Tenaga Kerja Lokal di Kawasan IMIP Mendominasi Dibanding Pekerja Asing
“Angka harapan hidup itu relatif… tidak bisa serta-merta dia langsung bisa naik secara signifikan. Demikian juga dengan harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah,” ucap Gladius.
Ia juga menjelaskan bagaimana peningkatan investasi mendorong aktivitas ekonomi, meningkatkan pendapatan, dan berujung pada meningkatnya pengeluaran masyarakat.
"Kalau banyak investasi akan mendorong perekonomian, akan mendorong peningkatan pendapatan. Peningkatan pendapatan itu akan diikuti dengan peningkatan pengeluaran rumah tangganya,” katanya.
Oleh karena itu, BPS menggunakan pengeluaran riil per kapita sebagai indikator utama kesejahteraan ekonomi rumah tangga.
Terlebih, dalam pelaksanaan survei, BPS kerap mengalami kendala ketika harus menanyakan pendapatan responden.
Baca tanpa iklan