TRIBUNNEWS.COM - Teks khutbah berjudul "Ibu: Jalan Menuju Rida Allah" bisa dibacakan saat salat Jumat hari ini, 19 Desember 2025.
Khutbah Jumat adalah ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.
Khutbah merupakan bagian penting dari ibadah salat Jumat dan memiliki beberapa fungsi, seperti memberikan nasihat, bimbingan moral, dan pesan-pesan agama kepada jamaah.
Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember, teks khutbah ini akan mengajak kita untuk merenungkan kembali kedudukan ibu dalam Islam.
Islam menempatkan ibu pada posisi yang sangat tinggi, bahkan melebihi segala bentuk ibadah sunah.
Dikutip dari laman Simbi Kemenag, berikut teks khutbah berjudul "Ibu: Jalan Menuju Rida Allah" untuk shalat Jumat, 19 Desember 2025.
Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Seorang Khatib, Menentukan Sahnya Ibadah
Ibu: Jalan Menuju Rida Allah
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اتَّقُوا اللهَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَجَانِبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ : وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ.
Hadirin jemaah salat Jum'at yang dirahmati Allah Swt,
Pada kesempatan khotbah ini, bertepatan dengan peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember, marilah kita merenungkan kembali kedudukan ibu dalam Islam. Islam menempatkan ibu pada posisi yang sangat tinggi, bahkan melebihi segala bentuk ibadah sunah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw pernah ditanya:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ.
"Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw sambil berkata: "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" Beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Kemudian ayahmu." (H.R. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw menyebut ibu tiga kali, baru kemudian ayah. Kenapa ibu begitu istimewa? Ini bukan tanpa alasan. Karena pengorbanan ibu tidak bisa diukur dengan apa pun. Ibu mengandung dalam keadaan lemah, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, menyusui, merawat, dan mendidik tanpa pernah menghitung balas jasa. Karena itu jangan heran kalau rida Allah sangat bergantung pada rida ibu. Sebaliknya, murka Allah pun bisa datang karena murkanya ibu.
Jemaah Jum'at yang berbahagia,
Ada kisah yang sangat menggetarkan tentang seorang ahli ibadah bernama Alqamah. la rajin salat, rajin puasa, dikenal sebagai orang saleh. Tapi saat menjelang wafat, lisannya terkunci, tidak bisa mengucapkan La ilaha illallah.
Rasulullah saw bertanya, ternyata masalahnya bukan kurang ibadah, tapi ibunya belum rida, karena Alqamah lebih memihak istrinya dan sering menyakiti hati ibunya. Begitu ibunya memaafkan dan meridai, barulah Alqamah bisa mengucapkan kalimat tauhid dan meninggal dengan tenang.
Artinya apa? Ibadah yang banyak bisa tertahan, kalau ibu terluka.
Jemaah Jum'at rahimakumullah,
Ada juga kisah Juraij, seorang ahli ibadah dari Bani Israil. Ia sedang salat sunah, ibunya memanggil. Juraij memilih meneruskan salatnya. Ibunya kecewa, lalu berdoa. Akibatnya, Juraij diuji dengan fitnah yang berat. Sebagaimana disebutkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod:
فَأَتَتْ أُمُّهُ يَوْمًا فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ وَهُوَ يُصَلِّي -: أُمِّي وَصَلَاتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلَاتَهُ، ثُمَّ صَرَحَتْ بِهِ الثَّانِيَةَ، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ : أُمِّي وَصَلَاتِي فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلَانَهُ، ثُمَّ صَرَحَتْ بِهِ الثَّالِثَةَ، فَقَالَ: أُمِّي وَصَلَاتِي ؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلَاتَهُ، فَلَمَّا لَمْ يُحِبْهَا قَالَتْ: لَا أَمَاتَكَ اللهُ يَا جُرَيْجُ حَتَّى تَنْظُرَ فِي وُجُوهِ الْمُؤْمِسَاتِ، ثُمَّ انْصَرَفَتْ.
(Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggil anaknya (Juraij) ketika ia sedang melaksanakan salat, "Wahai Juraij." Juraij lalu bertanya dalam hatinya, "Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan salatku?" Rupanya dia mengutamakan salatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya. Juraij kembali bertanya di dalam hati, "Ibuku atau salatku?" Rupanya dia mengutamakan salatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, "Ibuku atau salatku?" Rupanya dia tetap mengutamakan salatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, "Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur." Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya.
Tak lama kemudian, seorang wanita pezina (atau wanita yang difitnahkan) menuduh bahwa Juraij adalah ayah dari anaknya. Masyarakat marah, menghancurkan tempat ibadahnya, dan menyeret Juraij ke hadapan umum.
Baca tanpa iklan