Menurut Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, Rakernas 1 ini bukan sekedar agenda rutin tahunan.
Namun, juga menegaskan konsolidasi PDIP sebagai partai penyeimbang sekaligus meneguhkan perjuangan bagi kemanusiaan dan keadilan serta keberpihakan pada rakyat.
"PDI Perjuangan menegaskan diri sebagai partai penyeimbang dengan kerja nyata di tengah rakyat di tengah berbagai bencana yang melanda di Tanah Air, dengan spirit kemanusian, keadilan dan keberpihakan kepada rakyat," kata Hasto di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Rangkaian Acara:
Tanggal 10 Januari 2026 adalah hari jadi PDIP, yang berdiri 10 Januari 1973.
HUT PDIP akan dirayakan Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, sekaligus Rakernas 10–12 Januari 2026. Hal tersebut, merupakan konsolidasi ideologi dan refleksi politik sekaligus Pidato Ketua PDIP Umum Megawati Soekarnoputri, dan diskusi kader mengenai arah politik ke depan
Nantinya, rangkaian agenda dimulai dari Pembukaan HUT ke-53 PDIP pada 10 Januari.
Selanjutnya, Rakernas hingga 12 Januari 2026 yang dihadiri pengurus pusat partai dan pengurus daerah (ketua, sekretaris dan bendahara) partai tingkat provinsi/kabupaten/kota, anggota DPR RI Fraksi PDIP, anggota DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta kepala daerah/wakil kepala daerah PDIP.
Rakernas ini menindaklanjuti hasil Kongres ke-VI PDIP yang dilaksanakan Agustus 2025 lalu.
Dalam Rakernas, akan dibahas sikap politik, termasuk jawaban Partai atas berbagai persoalan geopolitik, krisis ekologis, korupsi, persoalan ekonomi, penegakkan hukum, hingga program internal Partai dan tanggung jawab kerakyatan Partai.
Baca juga: 20 Link Twibbon HUT ke-53 PDIP Tahun 2026, Dilengkapi Cara Mudah Mengunggahnya di Media Sosial
Tema Acara
PDIP memilih tema Satyam Eva Jayate dengan sub tema “Di Sanalah Aku Berdiri, untuk Selama-lamanya”.
Satyam Eva Jayate adalah slogan berbahasa Sanskerta yang artinya "Kebenaran akan Menang".
Hasto berpendapat, tema Satyam Eva Jayate menjadi perisai moral dengan standar kebenaran ideologi Pancasila dengan spirit kelahirannya pada tanggal 1 Juni 1945.
"Bagi para pemuda, Satyam Eva Jayate bukan sekedar slogan."
“Namun pesan moral dalam dunia digital untuk berani berbicara kritis sebagai cermin kebebasan berpendapat yang dilindungi Konstitusi serta berani menempuh jalan 'anti mainstream' di dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan," jelas Hasto.
(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, Fransiskus Adhiyuda Prasetia)
Baca tanpa iklan