News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

HUT & Rakernas PDIP 2026

4 Hal yang Perlu Diketahui Mengenai HUT Ke-53 dan Rakernas PDIP di Ancol

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

HUT DAN RAKERNAS PDIP - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan menggelar peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 PDIP dan dilanjutkan dengan rapat kerja nasional (Rakernas) di Beach City International  Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta, pada Sabtu (10/1/2026). /Foto: Fransiskus Adhiyuda

Ketua Koordinator Media Pintar Perjuangan (MPP), Henky, mengatakan Maskot Banteng tidak sekadar menjadi simbol visual, melainkan representasi semangat perjuangan partai.

“Maskot Banteng bukan hanya simbol. Ia adalah energi. Energi yang tumbuh dari rakyat, untuk rakyat. Nama maskot akan diumumkan saat perayaan HUT ke-53 PDI Perjuangan,” kata Henky, Jumat (9/1/2026).

Henky menyebut gerakan yang diusung melalui Maskot Banteng bersifat inklusif dan terbuka untuk semua kalangan.

“Inilah movement, pergerakan rakyat yang nyata. Gerakan yang menumbuhkan empowerment, pemberdayaan di setiap lapisan masyarakat. Inilah makna di balik Maskot Banteng,” ungkapnya.

Nantinya nama maskot Banteng dari hasil sayembara akan diumumkan secara resmi pada perayaan HUT ke-53 PDIP.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. /Foto: Fersianus

Makna Tema Satyam Eva Jayate

Dalam Rakernas kali ini, PDIP mengusung tema Satyam Eva Jayate dengan subtema Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya.

Satyam Eva Jayate merupakan slogan berbahasa Sanskerta yang berarti “Kebenaran Akan Menang”.

Menurut Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto tema tersebut menjadi perisai moral yang berlandaskan kebenaran ideologi Pancasila, dengan merujuk pada spirit kelahirannya pada 1 Juni 1945.

"Tema Satyam Eva Jayate menjadi perisai moral dengan standar kebenaran ideologi Pancasila dengan spirit kelahirannya pada tanggal 1 Juni 1945. Bagi para pemuda, Satyam Eva Jayate bukan sekedar slogan, namun pesan moral dalam dunia digital untuk berani berbicara kritis sebagai cermin kebebasan berpendapat yang dilindungi Konstitusi serta berani menempuh jalan 'anti mainstream' di dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan," urai Hasto.

Adapun subtema Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya, yang dikutip dari lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman, menurut Hasto menggambarkan daya tahan dan keteguhan sikap dalam memperjuangkan kebenaran.

"Keteguhan terhadap posisi "di sanalah aku berdiri” juga menggambarkan kesetiaan pada jalan kerakyatan di tengah godaan pragmatisme politik," lanjut Hasto.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini