Ringkasan Berita:
- BRIN dan PT Dirgantara Indonesia menandatangani MoU kerja sama riset dan pemanfaatan teknologi penerbangan pada 14 Januari 2026.
- Ruang lingkup kerja sama diperluas, mencakup riset dan inovasi berbagai platform penerbangan seperti Pesawat N219 dan variannya, pesawat tanpa awak (MALE, Wulung, Alap-Alap), pesawat ringan, C212, hingga Urban Air Mobility.
- Kolaborasi ini diharapkan mendorong keberlanjutan dan daya saing industri dirgantara Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kerja sama riset dan pemanfaatan teknologi penerbangan, dengan PT Dirgantara Indonesia.
Kerja sama ini menjadi kesempatan bagi industri kedirgantaraan, agar produk yang dihasilkan berdasar pada riset sehingga terus berkelanjutan.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antar keduanya pada Rabu (14/1/2026).
Kepala BRIN Arif Satria berharap dengan adanya penandatanganan MoU ini, kerja sama BRIN dan PT Dirgantara Indonesia semakin produktif.
Sebelumnya, kerja sama antara BRIN dan PT Dirgantara berfokus pada riset dan pemanfaatan Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) MALE dan Pesawat Terbang N219 dan variannya.
Saat ini, kerjasama akan meliputi penelitian, pengembangan, pengkajian, penerapan, serta invensi dan inovasi Pesawat Terang N219 beserta variannya, PTTA MALE, PTTA Wulung, PTTA Alap-Alap, pesawat ringan, pesawat C212, dan Urban Air Mobility.
“Semoga dengan adanya penandatanganan MoU semakin produktif kerja sama ini, baik untuk produk-produk pesawat non awak yang kita kembangkan berjalan lancar. Dan karya kita bersama bisa memberi harapan baru bagi perkembangan teknologi Indonesia,” kata Arif.
Ia meyakini, kerja sama ini akan menjadi tonggak bahwa teknologi penerbangan di Indonesia kan terus melangkah ke depan, dengan teknologi yang semakin berkembang. Sebab, pesawat terbang bisa menjadi salah satu ikon kedirgantaraan suatu negara.
“Strategi lompatan inilah yang harus kita perkuat, sehingga pesawat berkualitas ini bisa memenuhi harapan pemerintah dan pemerintah juga bisa membeli. Sehingga pasar kita menjadi captive market,” ujarnya.
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Gita Amperiawan menilai kerja sama ini merupakan sebuah peluang dan bentuk dukungan yang diberikan BRIN, agar bisa mensinergikan antara riset dengan pemanfaatannya di industri kedirgantaraan.
Bahkan, menurutnya kesempatan baik ini tidak hanya akan memberi dampak bagi PT Dirgantara Indonesia, tapi juga bagi ekosistem kedirgantaraan nasional agar bisa mengembangkan produk-produk berbasis pada riset.
“Ini merupakan salah satu syarat mutlak untuk sustainability satu produk secara commercial di pasar itu adalah kalau continuous movement. Oleh karena itu kami dari industri sangat menyambut baik support dari kepala BRIN dalam penandatanganan MoU tentang riset dan pemanfaatan teknologi dirgantara,” ucapnya.
Ia berharap, BRIN dan PT Dirgantara Indonesia dapat mensinergikan kompetensi, fasilitas, infrastruktur, dan lainnya menjadi satu kegiatan riset yang implementatif.
“Permasalahan-permasalahan yang ada di industri bisa kita feedback kepada BRIN untuk masukan pengembangan riset,” ujarnya.
Baca tanpa iklan