TRIBUNNEWS.COM, BEKASI – Ketidakpastian masih menyelimuti keluarga Ferry Irawan, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang hingga kini belum ditemukan setelah pesawat ATR 42-500 yang ditumpanginya dilaporkan hilang kontak. Di tengah penantian itu, polisi mulai menempuh jalur kepastian lewat proses identifikasi.
Tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokes) Polda Metro Jaya mendatangi kediaman Ferry Irawan di kawasan Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (18/1/2026) siang, untuk mengambil sampel DNA anak kandung Ferry.
Berdasarkan pantauan Tribunnews.com di lokasi, tiga petugas Biddokes tiba sekitar pukul 14.26 WIB. Mereka mengenakan kaos polo biru dongker bertuliskan Dokpol di bagian belakang. Salah seorang petugas perempuan terlihat menenteng kotak medis berwarna biru saat memasuki rumah.
Sempat terjadi percakapan singkat antara petugas dan perwakilan keluarga mengenai maksud kedatangan tersebut.
Tak lama berselang, tim Biddokes langsung masuk ke dalam rumah untuk melakukan pengambilan sampel.
Beberapa menit kemudian, petugas keluar dari kediaman Ferry Irawan.
Salah satu anggota Biddokes Polda Metro Jaya, Aipda Bayu, membenarkan bahwa kedatangan mereka bertujuan mengambil sampel DNA dari anak kandung Ferry.
“Kami mengambil sampel DNA untuk mencocokkan dengan korban nantinya,” ujar Bayu kepada wartawan.
Menurut Bayu, sampel yang diambil berupa usap cairan mulut (swab) dan darah.
Sampel tersebut akan digunakan dalam proses identifikasi lanjutan apabila Ferry Irawan telah ditemukan.
“Pengambilan sampel darah dan swab mulut dari anak kandung. Nantinya, jika korban sudah ditemukan, akan dibawa terlebih dahulu ke rumah sakit di Makassar untuk proses identifikasi,” jelasnya.
Sebagai informasi, DNA (Deoxyribonucleic Acid) merupakan materi genetik yang diwariskan orang tua kepada anak dan kerap digunakan polisi untuk memastikan identitas korban secara ilmiah.
Baca juga: Janji Uang Rumah Berujung Maut, Ibu 75 Tahun Tewas di Tangan Anak Angkat
Pesawat Hilang Kontak
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan lepas landas dari Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Kontak terakhir dengan pesawat terjadi saat melintas di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.17 Wita.
Pesawat tersebut mengangkut 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang, termasuk Ferry Irawan. Pilot yang bertugas adalah Capt Andy Dahananto.
Baca tanpa iklan