“Bagi kami, kelamin politik harus jelas sejak awal. Karena itu, sejak awal pembentukan, kami sudah memutuskan pilihan politik bersama Presiden Prabowo Subianto,” katanya.
Pihaknya juga mengatakan Partai Gema Bangsa mendukung Prabowo Subianto menjabat dua periode, termasuk untuk mengoptimalkan program-program di 5 tahun menjabat.
Dikritik
Sementara itu, Koordinator Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampow mengkritik arah Partai Gema Bangsa tersebut, yang langsung memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto.
Jeirry menilai keputusan Partai Gema Bangsa untuk mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden dinilai kurang strategis bagi partai baru tersebut.
Menurutnya, langkah itu berpotensi menempatkan Partai Gema Bangsa seolah-olah mensubordinatkan diri kepada Prabowo, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden Republik Indonesia.
Jeirry berpandangan partai baru semestinya membangun narasi politik yang berbeda dan mandiri, bukan justru melekat pada kekuasaan yang sedang berjalan.
Ia membandingkan sikap Partai Gema Bangsa dengan Partai Gerakan Rakyat yang dinilainya lebih konsisten membangun narasi alternatif.
“Partai Gerakan Rakyat dalam beberapa kesempatan berani mengkritik langsung kebijakan pemerintahan yang sekarang. Itu menunjukkan diferensiasi politik,” ujarnya kepada Tribunnews, saat hadir dalam diskusi Overview Tribunnews, ditayangkan di YouTube Tribunnews, Rabu (21/1/2026).
Menurut Jeirry, dukungan dini kepada Prabowo justru berisiko mempersempit ruang Partai Gema Bangsa dalam menggalang dukungan masyarakat.
Terlebih, partai tersebut mengusung gagasan desentralisasi yang seharusnya disosialisasikan secara luas dan kritis kepada publik.
“Kalau sejak awal sudah mendukung Prabowo, sementara Prabowo adalah bagian dari rezim yang sedang berkuasa, maka akan muncul kontradiksi. Desentralisasi yang digaungkan jadi sulit dipahami publik,” katanya.
Ia menila, partai-partai baru seharusnya mengambil peran sebagai penantang (challenger) terhadap kekuasaan, bukan justru berada dalam barisan penguasa sejak awal. Sikap kritis tersebut dinilai penting untuk memperkuat identitas dan gagasan besar yang ditawarkan kepada masyarakat.
“Secara tidak langsung publik akan melihat, jika dari awal sudah mendukung Prabowo, maka gagasan-gagasan besar yang dibangun partai berpotensi kehilangan daya kritis dan diferensiasi,” kata Jeirry.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)
Baca tanpa iklan