News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

PBNU dan Dinamika Organisasinya

Rais Aam Diminta Segera Gelar Muktamar ke-35 NU, Ini Alasannya

Penulis: Reza Deni
Editor: Wahyu Aji
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KONFLIK PBNU - Suasana terkini di kantor Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), Senen, Jakarta, Senin (1/12/2025). Forum Bahtsul Masail para kiai se-Jawa Barat dan DKI Jakarta mendesak Rais Aam PBNU segera melaksanakan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama

Ringkasan Berita:

  • Forum Bahtsul Masail kiai se-Jawa Barat dan DKI Jakarta mendesak Rais Aam PBNU segera menggelar Muktamar ke-35 NU.
  • Para kiai menilai percepatan muktamar sebagai keharusan syar’i untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.
  • Sejalan dengan itu, pertemuan islah PBNU di Pesantren Lirboyo menyepakati rekonsiliasi internal dan keputusan bersama untuk menyelenggarakan Muktamar ke-35 NU.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Forum Bahtsul Masail para kiai se-Jawa Barat dan DKI Jakarta mendesak Rais Aam PBNU segera melaksanakan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) secepatnya. 

Desakan itu mengemuka dalam forum Bahtsul Masail yang digelar di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, dan diikuti puluhan kiai muda.

Sejumlah kiai yang hadir antara lain KH. Muhammad Shofy, KH. Ahmad Ashif Shofiyullah, KH. Nanang Umar Faruq, KH. Ghufron, KH Abdul Muiz Syaerozi, KH Jamaluddin Muhammad, KH. Ahmad Baiquni, KH. Mukti Ali, KH. Muchlis, KH. Asnawi Ridwan, KH. Roland Gunawan, Ustadz Ahmad Subhan, Ustadz Muhammad Sirojuddin, KH. Khozinatul Asror, serta puluhan kiai muda lainnya.

Dalam forum tersebut, dibahas dinamika serius di tubuh PBNU, mulai dari pemberhentian Ketua Umum Gus Yahya hingga dugaan keterlibatan sejumlah pengurus dalam kasus korupsi kuota haji. 

Dari pembahasan itu, para kiai merumuskan landasan keagamaan yang menegaskan urgensi percepatan Muktamar PBNU.

“Para kiai menyuarakan percepatan Muktamar, tujuannya agar NU lepas dari jaringan zionisme dan keluar dari lingkaran setan korupsi yang sedang ditangani KPK dari beberapa oknum petinggi PBNU dan nama baik NU segera pulih kembali dengan cepat. Percepatan muktamar dibahas dengan menggunakan narasi argumentasi keagamaan,” kata Kiai Muhammad Shofi Bin Mustofa Aqiel, Pengasuh Pesantren Kempek, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya, percepatan muktamar didasarkan pada kaidah fikih: Dar` al-mafasid muqaddam ‘ala jabl al-mashalih(menolak kerusakan harus diprioritaskan daripada mengambil kemaslahatan).

Kiai Shofy memaparkan sedikitnya lima mafsadat yang dinilai sedang berlangsung. Pertama, kepemimpinan PBNU dinilai tidak efektif sejak pemecatan Yahya Cholil Staquf atay Gus Yahya secara tidak terhormat oleh Rais Aam dan Syuriyah PBNU, yang disebut terkait tata kelola keuangan organisasi dan afiliasi zionisme, serta adanya pengurus yang terjerat kasus korupsi dana haji.

Kedua, pemecatan tersebut melahirkan dualisme kepemimpinan antara syuriyah dan tanfidziyah.

“Saat ini ada dua Ketum yaitu KH. Zulfa Musthofa PJ Ketum PBNU menggantikan Gus Yahya dan Gus Yahya sendiri yang masih mengkalim dirinya sebagai Ketum PBNU. Kalau ini terus dibiarkan, maka ini tidak sehat bagi keberlangsungan organisasi,” ujarnya.

Ketiga, terjadinya perpecahan dan polarisasi di tengah warga NU yang tampak nyata di media sosial dan interaksi sosial. Keempat, kepengurusan PBNU saat ini dinilai telah kehilangan legitimasi moral, spiritual, sosial, hingga politik.

“Di samping itu Gus Yahya secara de jure sudah dipecat secara tidak terhormat oleh Rois Aam dan Suriyah PBNU,” katanya.

Kelima, forum menilai perlu adanya pembenahan menyeluruh terhadap organisasi NU.

“Intinya, PBNU sebagai sebuah organisasi perlu direset ulang, dengan diisi oleh orang-orang yang memiliki kredibilitas, kapabilitas, integritas, moralitas, dan kapasitas keulamaan,” kata Kiai Shofy.

Selain itu, percepatan muktamar dinilai sebagai jalan keluar dari konflik berkepanjangan. 

Forum juga merujuk kaidah fikih al-khuruj min al-khilaf mustahabbun (keluar dari perselisihan adalah disunnahkan).

Karena itu, para kiai mendukung Rais Aam dan jajaran Syuriyah PBNU untuk segera menggelar Muktamar PBNU. 

Mereka juga menegaskan Gus Yahya yang telah dinyatakan dipecat dengan alasan afiliasi zionisme dan tata kelola keuangan yang tidak syar’i tidak boleh lagi mencalonkan diri. 

Forum Bahtsul Masail turut merekomendasikan kriteria pemimpin PBNU ke depan.

“Para kiai juga merekomendasikan kriteria kepemimpinan ulama yang ideal ke depan bagi PBNU. Yaitu sosok yang memiliki otoritas keilmuan, wawasan dan pengetahuan yang luas, baik pengetahuan agama (faqih) maupun pengetahuan umum, termasuk pengetahuan berorganisasi; otoritas spiritual dan akhlak mulia yang bisa menjadi teladan; zuhud (asketis) alias tidak hubbu ad-dunnya (cinta dunia) dan hubbu al-jah (ambisi jabatan) sebagai ciri ulama su (ulama buruk),” ujarnya.

Dia menegaskan, pemimpin NU harus menempatkan diri sebagai pelayan organisasi dan memiliki keteladanan moral serta spiritual yang kuat.

“Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama,” (Q.S. Fathir: 28). Ayat ini dengan sangat jelas bahwa hanya ulama yang punya rasa takut (khasyah) kepada Allah. Rasa takut ini muncul sebagai konsekuensi dari keimanan, keilmuan, spiritualitas dan akhlak yang tertanam kuat di hatinya,” tandas Kiai Shofy

Islah PBNU di Lirboyo

Pertemuan antara Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar bersama jajaran Syuriah PBNU dan Mustasyar PBNU, termasuk Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menghasilkan kesepakatan bersama untuk mengakhiri konflik internal di tubuh PBNU. Pertemuan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (25/12/2025).

Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar beserta jajaran Pengurus Syuriyah, di antaranya KH Abdullah Kafabihi, KH Mu’adz Thohir, KH Imam Buchori, KH Idris Hamid, H. Muhammad Nuh, Gus Muhib, Gus Yazid, Gus Afifuddin Dimyati, Gus Moqsith Ghozali, Gus Latif, Gus Sarmidi Husna, Gus Tajul Mafakhir, Gus Athoillah Anwar, hingga Gus Nadzif.

Pertemuan yang menjadi upaya rekonsiliasi terhadap dinamika dan perbedaan pandangan yang sempat mencuat di internal PBNU selama ini tersebut, dihadiri sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama. 

Hasil pertemuan tercapai islah atau perdamaian di antara pihak-pihak yang sebelumnya berselisih, dengan komitmen bersama untuk kembali mengedepankan persatuan organisasi.

Juru Bicara Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdul Mu’id Shohib, menyampaikan pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan penuh musyawarah.

“Alhamdulillah, hasil pertemuan hari ini menyatakan bahwa kedua belah pihak telah menyepakati keputusan bersama,” ujar Gus Mu’id seusai pertemuan.

Salah satu keputusan utama yang disepakati adalah penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. 

Muktamar tersebut akan dilaksanakan dalam waktu secepat-cepatnya demi menjaga kesinambungan dan stabilitas organisasi.

Baca juga: Setelah Pertemuan Lirboyo, Rais Aam PBNU dan Gus Ipul Bersanding di Acara Doa Bersama NU

“Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama akan diselenggarakan sesegera mungkin, dan pelaksanaannya diserahkan kepada PBNU, dalam hal ini Rais Aam dan Ketua Umum PBNUGus Yahya,” jelas Gus Mu’id.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini