"Di sinilah peran negara menjadi krusial dan tak tergantikan," tuturnya.
Di sisi lain, Pieter Zulkifli menegaskan partai politik (parpol) seharusnya menjadi benteng pertama melawan kemerosotan ini.
Sayangnya, kader kerap dibiarkan atau bahkan didorong menjadi pasukan sorak yang lihai mencemooh, tetapi gagap berargumen.
"Padahal partai adalah sekolah politik, bukan pabrik provokator. Tanpa kaderisasi yang menekankan etika debat dan kecakapan berpikir, partai hanya akan memperpanjang polusi verbal di ruang publik," ucapnya.
Pieter Zulkifli kembali mengungkit pernyataan Eleanor Roosevelt yang pernah berkata, 'Great minds discuss ideas; small minds discuss people'. Dia menyebut kutipan ini terasa relevan sekaligus menohok.
"Ketika elite sibuk membahas wajah dan tubuh lawan, sesungguhnya mereka sedang membuka aib sendiri: ketidakmampuan berpikir pada level ide," tuturnya.
"Pada akhirnya, tanggung jawab juga ada di tangan publik. Demokrasi tidak akan naik kelas jika pemilih terus membeli dagangan narasi murahan. Kritiklah kebijakan Jokowi, bedah visi Prabowo, uji kapasitas Gibran tetapi biarkan tubuh mereka tetap menjadi wilayah kemanusiaan, bukan medan tempur politik," tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Pieter Zulkifli menyatakan body shaming politik bukan tanda keberanian, melainkan kepanikan.
Dia juga menganggap body shaming bukan kecerdikan, melainkan kemalasan berpikir.
Baca juga: Mahfud MD Sebut Bahan Roasting Pandji yang Singgung Gibran Ngantuk Bukan Pidana
"Dan selama elite terus menjajakan politik kulit, rakyat dituntut lebih cerdas: menolak yang remeh, dan menuntut yang substansial. Demokrasi yang beradab hanya tumbuh di atas intelektualitas, bukan di atas ejekan," katanya.
Baca tanpa iklan