TRIBUNNEWS.COM - Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai isu reshuffle kabinet Prabowo-Gibran tidak berkaitan dengan kepentingan politik, melainkan murni karena kebutuhan.
Isu reshuffle ini menguat setelah Thomas Djiwandono yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan, dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia memicu spekulasi politik.
Namun, Adi mengatakan, sejauh ini dia melihat semua pendukungnya masih terus memberikan dukungan penuh pada program-program Prabowo, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Sekolah Rakyat.
"Hari ini saya tidak menyaksikan dari dekat ya, partai-partai politik para pendukung Pak Prabowo Subianto itu muncul oposisi dari dalam, tidak kelihatan misalnya tidak mendukung 100 persen semua kebijakan-kebijakan politik pemerintah, MBG kemudian koperasi Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat semuanya didukung," ungkap Adi, dikutip dari YouTube Kompas TV, Minggu (1/2/2026).
"Jadi tidak ada alasan sebenarnya untuk menertibkan partai-partai koalisi pemerintah hanya alasan konsolidasi dan dukungan politik," sambungnya.
Oleh karena itu, Adi pun berkeyakinan bahwa jika benar ada reshuffle pada 2026 ini, maka hal tersebut murni karena kebutuhan atau rotasi semata.
"Menurut saya jika di 2026 ini ada reshuffle itu murni karena satu mungkin hanya sebatas replacement, menggeser satu posisi ke posisi yang lain dan yang kedua adalah untuk mengakselerasi keinginan presiden," katanya.
Adi lantas mengatakan, apabila Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono memang terkena reshuffle, menurutnya hal itu karena ingin adanya penyegaran saja.
Selain itu, kata Adi, mungkin juga karena mempertimbangkan beban pekerjaan yang diampu oleh Sugiono, mengingat dia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
"Karena apapun menjadi menteri luar negeri itu kan cukup powerfull dan cukup luar biasa lelah dan menyita waktu yang cukup banyak. Sementara pada saat yang bersamaan, beliau Pak Sugiono kan juga adalah Sekjen Partai Besar," ujar Adi.
"Jadi membagi di antara tugas dan tanggung jawab besar ini tentu sedang dihitung juga ya oleh publik bagaimana cara membaginya," tambahnya.
Baca juga: Reshuffle Kabinet, Pakar Sebut Menteri yang Berpotensi Diganti: Sugiono, Pratikno, Tito Karnavian
Sehingga, menurut Adi, jika memang terjadi pergeseran posisi, hal tersebut untuk memaksimalkan kinerja Menlu.
"Misalnya dikasih pada figur anak muda, pengalaman internasional dan memang di partainya misalnya tidak terlampau memiliki tanggung jawab yang cukup besar, kan kan begitu jalan ceritanya," paparnya.
Nama-nama Menteri yang Diisukan Kena Reshuffle
Kali ini, terdapat sejumlah nama yang diisukan masuk dalam daftar reshuffle kali ini, di antaranya adalah sebagai berikut:
- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia ( Menko PMK), Pratikno
- Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono
- Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono
- Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Muhammad Qodari
- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Meutya Hafid
- Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai
- Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri
Baca tanpa iklan