Jamiluddin menjelaskan sejumlah partai koalisi memiliki kader yang dinilai memiliki elektabilitas lebih kompetitif.
Ia menyinggung Partai Amanat Nasional (PAN) yang telah menawarkan Ketua Umumnya, Zulkifli Hasan, serta Partai Demokrat dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Ketumnya AHY yang elektabilitasnya terus meningkat, tentu tak ingin mengusung sosok lain yang elektabilitasnya lebih rendah,” ucapnya.
Dari sisi elektoral, ia juga menyebut posisi Gibran dalam sejumlah survei belum menunjukkan daya saing kuat dibanding tokoh lain.
“Elektabilitas Gibran sangat rendah, bahkan masih di bawah elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY),” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut akan menyulitkan Gibran untuk kembali diterima sebagai pendamping Prabowo, terutama jika partai-partai koalisi mengedepankan pertimbangan elektabilitas dan peluang kemenangan.
“Tidak ada partai politik mau mengusung calon hanya untuk kalah,” ujarnya.
Ia menambahkan, peluang Gibran untuk maju secara mandiri juga dinilai tidak besar apabila tidak didukung partai besar.
“Kalau pun Gibran maju, tampaknya tidak ada partai besar yang mengusungnya. Selain PSI, kemungkinan Gibran hanya didukung partai gurem lainnya,” tandasnya.
Hingga kini, ada sejumlah nama loyalis Jokowi yang sudah terkena reshuffle oleh Presiden Prabowo.
Diantaranya, Ketua Relawan Projo, Budi Arie Setiadi yang sempat menjabat sebagai Menteri Koperasi RI dan Abdul Kadir Karding yang dicopot dari Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI).
Ke depan, santer isu Pratikno yang juga loyalis Jokowi akan kena reshuffle dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK).
Namun hingga kini Pratikno masih tidak memberikan respons terkait kabar tersebut.
Tak hanya dia, ada sejumlah nama lain yang juga dikabarkan akan terkena reshuffle kabinet. Mereka adalah Menteri HAM Natalius Pigai hingga Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Saat dikonfirmasi, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai, mengatakan bahwa isu tersebut tidak dia ketahui.
Baca tanpa iklan