News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Program Makan Bergizi Gratis

Akademisi Ingatkan Penguatan Rantai Pasok dalam Program MBG

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PERKUAT RANTAI PASOK -  Insiden keracunan yang menimpa pelajar di sejumlah daerah menjadi pengingat penting bagi keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).  Program prioritas nasional yang menargetkan 82,9 juta penerima manfaat itu dinilai tidak cukup hanya memastikan ketersediaan makanan, tetapi juga harus memperkuat sistem rantai pasok pangan dari hulu hingga hilir.

Dengan sistem ini, sumber persoalan dapat diidentifikasi lebih cepat jika terjadi insiden. Transparansi distribusi juga memperkuat akuntabilitas pelaksanaan program.

“Implementasi sistem pelacakan digital dan standardisasi rantai dingin menjadi instrumen vital untuk memantau keamanan pangan dan mencegah insiden berulang,” katanya.
 
Tantangan Distribusi dan Peran Rantai Pasok Lokal

Distribusi makanan ke sekolah, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), menjadi tantangan tersendiri.

Keterlambatan distribusi berpotensi menurunkan kualitas sekaligus meningkatkan risiko kontaminasi.

Sebagai solusi, Erni mendorong penguatan rantai pasok berbasis lokal dengan melibatkan petani, nelayan, koperasi desa, dan pelaku UMKM pangan di sekitar SPPG.

"Pendekatan ini dinilai mampu memperpendek jalur distribusi, menjaga kesegaran bahan baku, serta menggerakkan ekonomi daerah," katanya.

Namun demikian, kata dia standarisasi mutu dan pengawasan tetap diperlukan agar kualitas pangan tidak berbeda antarwilayah.

Menjaga Kepercayaan Publik

Secara konseptual, MBG memiliki potensi besar dalam mendukung kesehatan anak, menekan angka stunting, serta memperkuat ekonomi lokal.

Namun, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau cakupan penerima manfaat.

Kepercayaan publik menjadi faktor penentu.

“Tanpa penguatan rantai pasok, pengawasan kualitas, dan standardisasi pelaksanaan, program ini berisiko tidak mencapai tujuan yang diharapkan,” tegas Erni.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini