TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Yulius Setiarto menyinggung kedekatan pemikiran antara Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dan Presiden pertama Indonesia Soekarno.
Ia menyebut, keduanya memiliki kesamaan pandangan dalam semangat antikolonialisme, solidaritas bangsa-bangsa berkembang, serta penolakan terhadap dominasi kekuatan besar dalam politik internasional.
Hal ini disampaikan Yulius saat mengunjungi Duta Besar Iran untuk RI Mohammad Boroujerdi di Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta pada Senin (9/3/2026). Kunjungan ini juga dalam rangka menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ali Khamenei.
Ayatullah Ali Khamenei yang sudah memimpin Iran selama hampir empat dekade tersebut, gugur dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS)-Israel pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.
“Ibu Megawati Soekarnoputri juga pernah mengingatkan bahwa Ayatullah Ali Khamenei sejak muda mengagumi pemikiran Bung Karno. Semangat antikolonialisme, solidaritas dunia ketiga, dan keberanian menolak dominasi kekuatan besar menjadi titik pertemuan sejarah antara Indonesia dan Iran,” kata Yulius.
Yulius menerangkan kunjungan ini menjadi bentuk penghormatan dan solidaritas kemanusiaan kepada rakyat Iran, khususnya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ia menilai hubungan antara Indonesia dan Iran tidak semata lahir dari hubungan diplomatik antarnegara, tetapi juga memiliki kedekatan historis melalui kesamaan pengalaman perjuangan bangsa-bangsa berkembang dalam mempertahankan kedaulatan di tengah tekanan geopolitik global.
Salah satunya yakni semangat Konferensi Asia-Afrika yang digelar di Bandung pada tahun 1955.
Konferensi tersebut dinilai menjadi tonggak penting solidaritas negara-negara Asia dan Afrika dalam memperjuangkan kedaulatan serta menolak politik kekuatan dalam sistem internasional.
“Kalau kita tarik lebih jauh, peristiwa ini justru mengingatkan kembali pada semangat Konferensi Asia-Afrika yang digagas Bung Karno. Intinya, bangsa-bangsa Asia dan Afrika tidak boleh tunduk pada politik kekuatan dan harus berdiri di atas prinsip kedaulatan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa semangat tersebut tetap relevan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia saat ini.
Menurutnya penghormatan terhadap kedaulatan negara serta komitmen pada hukum internasional harus terus menjadi fondasi dalam hubungan antarbangsa.
Di akhir pernyataannya, Yulius menyinggung sikap Tahta Suci Vatikan yang memandang konflik di kawasan dengan keprihatinan mendalam.
Vatikan, menurutnya, secara konsisten menyerukan agar semua pihak menahan diri, mengedepankan dialog diplomatik, serta mengembalikan supremasi hukum internasional demi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Surat Megawati
Baca tanpa iklan