News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Ekonom Beberkan Hitung-hitungan Kenaikan BBM Kala Minyak Dunia Meroket

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Bobby Wiratama
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, mengatakan kondisi geopolitik akibat konflik di Timur Tengah membuat pemerintah dalam situasi dilema.

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik ini membuat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri semakin sulit dihindari.

Penyesuaian harga BBM merupakan langkah rasional untuk menjaga stabilitas fiskal dan menghindari tekanan lebih dalam terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Di sisi lain, pemerintah juga harus mempertahankan daya beli masyarakat.

“Kondisi geopolitik sekarang membawa pemerintah dalam dilema yang sulit. Akan mempertahankan daya beli dengan risiko disiplin fiskal terabaikan atau menaikkan BBM dengan risiko inflasi bahkan stagflasi,” ujar Hendry kepada wartawan, Jumat (27/3/2026).

Hendry menyebut harga minyak dunia berpotensi menembus di atas 100 dolar AS per barel, jauh dari asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

Dalam situasi ini, Hendry menilai kenaikan harga BBM menjadi opsi rasional yang harus dipilih negara.

Sebab jika harga tidak disesuaikan, beban subsidi energi akan melonjak tajam dan berisiko memperlebar defisit APBN melewati batas aman 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Keputusan menahan harga BBM berarti pemerintah memilih menanggung beban melalui pelebaran defisit. Strategi ini efektif menahan inflasi, tetapi berisiko terhadap stabilitas fiskal jangka panjang,” katanya.

Ia menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi hingga Rp10,3 triliun.

Defisit APBN juga dapat melebar sekitar Rp6,8 triliun untuk setiap kenaikan tersebut.

Baca juga: BBM Kian Langka, Pemerintah Thailand Bentuk Pusat Komando Pemantauan Krisis

Dengan asumsi harga minyak berada di kisaran 85–92 dolar AS per barel, Hendry memperkirakan kenaikan harga Pertalite berada pada rentang 5–10 persen atau menjadi Rp10.500 hingga Rp11.000 per liter dari harga sebelumnya Rp10.000.

Sementara harga solar subsidi diperkirakan naik ke kisaran Rp7.150 hingga Rp7.500 per liter dari harga sebelumnya Rp6.800.

Dalam skenario ini, defisit APBN diperkirakan masih berada di ambang batas aman, mendekati 3 persen terhadap PDB.

Pertamina Patra Niaga menambah volume pasokan BBM ke SPBU untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan di Kalbar selama libur panjang. Suplai BBM ditambah hingga mencapai 140 persen dari kondisi normal dan meningkatkan frekuensi pengiriman ke SPBU prioritas.  (HO/IST/dok, Pertamina Patra Niaga)
Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini