Ringkasan Berita:
- Ebrahim Rasool, memperingatkan bahwa tatanan global saat ini tidak hanya menghadapi tantangan politik.
- Ia menegaskan bahwa tanpa fondasi etika yang kuat, upaya kolektif untuk memperbaiki keadaan global akan menemui jalan buntu.
- Rasool juga menyoroti bagaimana ketidakadilan struktural masih menjadi akar dari ketidakharmonisan global, mulai dari krisis lingkungan hingga ketimpangan ekonomi yang ekstrem.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan ajudan Nelson Mandela sekaligus eks Duta Besar Afrika Selatan untuk Amerika Serikat, Ebrahim Rasool, memperingatkan bahwa tatanan global saat ini tidak hanya menghadapi tantangan politik.
Dia melihat adanya sebuah krisis moral yang mendalam.
Baca juga: Dino Patti Djalal Serukan Pemerintah Susun Strategi Kekuatan Menengah Hadapi Gejolak Politik Global
Hal tersebut disampaikan Rasool dalam diskusi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Hotel St. Regis, Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Mulanya, Rasool saat menyoroti urgensi kepemimpinan yang transformatif di tengah ketidakpastian dunia saat ini.
Ia menegaskan bahwa tanpa fondasi etika yang kuat, upaya kolektif untuk memperbaiki keadaan global akan menemui jalan buntu.
"Saya tidak akan menjadi dramatis dan mengatakan bahwa dunia berada dalam krisis eksistensial, tetapi yang pasti kita berada dalam krisis moral. Tentu kita berada dalam krisis politik. Tentu kita berada dalam krisis etika. Tentu kita berada dalam krisis organisasi dan tentu saja dunia berada dalam krisis tata kelola," tegas Rasool.
Menurut Rasool, akumulasi dari berbagai krisis ini berpotensi mengancam keberlangsungan hidup umat manusia jika tidak segera diatasi dengan kepemimpinan yang berintegritas. Ia mengingatkan bahwa saat ini dunia sangat membutuhkan figur pemimpin yang mampu menarik dunia keluar dari jurang tersebut.
"Inilah saat di mana kita membutuhkan kepemimpinan yang belum pernah ada sebelumnya. Dan kita akan menarik kepemimpinan dari sumber mana pun yang kita bisa karena akan membutuhkan upaya kolektif untuk menarik dunia keluar dari krisis ini," lanjutnya.
Rasool juga menyoroti bagaimana ketidakadilan struktural masih menjadi akar dari ketidakharmonisan global, mulai dari krisis lingkungan hingga ketimpangan ekonomi yang ekstrem.
Ia menyebutkan bahwa kemiskinan di tempat-tempat seperti Afrika bukanlah akibat dari kemalasan, melainkan ketidakadilan yang sistematis.
Baca juga: Babak Baru Politik Irak Dimulai, Parlemen Pilih Nizar Amedi sebagai Presiden Baru
Rasool mengidentifikasi munculnya berbagai isme dan fobia sebagai bentuk kegagalan manusia dalam menghadapi perbedaan. Ia menyebut fenomena ini sebagai bagian dari satu keluarga besar yang merusak masyarakat.
"Kita memiliki keluarga besar dengan nama belakang kefanatikan. Dan kita perlu memahami bagaimana kita memilih ketidakadilan apa yang membuat dunia tidak bahagia dan oleh karena itu menuntut kepahlawanan dan kepemimpinan di dunia ini," jelasnya.
Karena itu, ia mengajak para calon pemimpin untuk memiliki niat yang jelas dan keberanian moral. Ia menyinggun prinsip Nelson Mandela yang selalu menekankan kejelasan tujuan sebelum melangkah dalam proses perjuangan.
Baca tanpa iklan