News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kekerasan Anak Daycare di Yogyakarta

Anak Jadi Korban Kekerasan, Trauma Bisa Lebih Dalam dari Luka Fisik

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DUGAAN KEKERASAN - Tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha yang terletak di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, viral usai digerebek aparat kepolisian. Dari total 103 anak yang tercatat pernah dititipkan di ittle Aresha, 53 di antaranya terverifikasi mengalami kekerasan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dugaan kekerasan di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha di Yogyakarta menyisakan kekhawatiran besar, bukan hanya soal luka fisik, tetapi juga dampak psikologis jangka panjang pada anak-anak.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memastikan, kekerasan yang dialami anak, terutama di usia balita, hampir pasti meninggalkan trauma yang tidak sederhana.

Ketua KPAI, Dr. Aris Adi Leksono, M.M.Pd menegaskan bahwa luka pada anak tidak berhenti pada apa yang terlihat secara fisik.

“Jangka panjang pasti ada, karena setiap luka yang diterima oleh anak apalagi balita itu pasti ada trauma-nya. Baik trauma fisik ya, kalau memang berdampak fisik apalagi trauma fisik,"ungkapnya saat dihubungi Tribunnews, Selasa (28/4/2026). 

Dalam kasus ini, jumlah korban juga cukup besar dan mengkhawatirkan.

Baca juga: Belajar dari Kasus Daycare di Jogja, Orang Tua Perlu Bangun ‘Early Warning System

“Dari penyangkupan pengawasan yang kami lakukan, saat ini sudah tercatat 103 korban,"imbuhnya. 

Data tersebut menunjukkan bahwa kasus ini bukan insiden kecil, melainkan peristiwa yang berdampak luas pada banyak anak dalam satu lingkungan yang sama.

Lebih dari itu, sebagian korban bahkan sudah merasakan dampak secara langsung, baik secara fisik maupun psikis.

“53-nya memang saat ini sedang mendapatkan dampak secara langsung itu, terutama dari fisik maupun psikisnya dan trauma-nya,"lanjutnya. 

Namun yang perlu dipahami, menurut KPAI, dampak kekerasan tidak hanya dialami oleh anak yang menjadi korban langsung.

Anak-anak lain yang berada di lokasi yang sama dan menyaksikan kejadian kekerasan juga berisiko mengalami trauma.

Artinya, satu peristiwa kekerasan bisa menciptakan efek berlapis, menyentuh banyak anak sekaligus.

Trauma pada anak usia dini sering kali tidak muncul dalam bentuk yang mudah dikenali. Bisa berupa perubahan perilaku, ketakutan berlebihan, atau gangguan emosi yang muncul perlahan.

Karena itu, KPAI menekankan bahwa penanganan kasus seperti ini tidak bisa parsial. Diperlukan langkah rehabilitatif dan pemulihan yang menyeluruh.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini