TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Tentara Nasional Indonesia (PMPP TNI), Mayjen TNI Iwan Bambang Setyawan, menegaskan bahwa konsep bela negara saat ini mengalami pergeseran signifikan seiring perubahan lanskap ancaman global.
Menurutnya, ancaman terhadap bangsa tidak lagi didominasi kekuatan militer konvensional, melainkan semakin kompleks dan multidimensional.
“Ancaman yang kita hadapi hari ini tidak selalu berbentuk fisik atau militer. Tantangan justru banyak datang dari ranah nonmiliter seperti disinformasi, radikalisme, hingga krisis sosial,” ujarnya di hadapan sekitar 500 peserta Bootcamp Bela Negara di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/5/2026).
Program tersebut merupakan kolaborasi antara Syare’a World dan PMPP TNI, yang diikuti kalangan profesional serta pengusaha muda dari berbagai sektor.
Pergeseran Makna Bela Negara
Dalam konteks tersebut, Iwan menekankan bahwa bela negara tidak lagi dapat dimaknai secara sempit sebagai upaya fisik atau militeristik.
Ia menyebut, pendekatan baru harus mencakup penguatan karakter, kesiapan mental, serta partisipasi aktif masyarakat sipil.
“Bela negara hari ini adalah soal kesiapan individu menghadapi krisis, menjaga integritas, serta berkontribusi dalam stabilitas sosial dan ekonomi,” jelasnya.
Ia menambahkan, meningkatnya keterlibatan masyarakat sipil dalam program seperti ini mencerminkan tumbuhnya kesadaran kolektif untuk menjaga keutuhan bangsa, sejalan dengan amanat konstitusi.
Baca juga: Dirjen Polpum Kemendagri: Bela Negara Harus Dimulai dari Diri Sendiri Lewat Aksi Ketahanan Pangan
Tantangan Dunia Usaha dan Generasi Muda
Menariknya, sebagian besar peserta dalam program ini merupakan generasi kedua pelaku usaha yang tengah menghadapi berbagai tekanan baru, mulai dari disrupsi digital, volatilitas ekonomi global, hingga perubahan perilaku pasar.
Dalam situasi tersebut, Iwan menilai bahwa nilai-nilai seperti disiplin, kepemimpinan, dan daya tahan menjadi faktor krusial, tidak hanya dalam konteks kebangsaan tetapi juga keberlanjutan bisnis.
“Ketahanan mental dan kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan adalah kompetensi yang semakin dibutuhkan, baik dalam dunia militer maupun dunia usaha,” ujarnya.
Refleksi dari Misi Perdamaian
Dalam salah satu sesi, Iwan juga membagikan pengalaman saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.
Baca tanpa iklan