TRIBUNNEWS.COM - Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menyebut Presiden Prabowo Subianto berencana akan menggelar retret lagi yang ditujukan bagi staf khusus (stafsus) dan juru bicara (jubir) kementerian.
Dia mengatakan retret itu akan digelar agar komunikasi terkait program pemerintah bisa tersampaikan dengan baik ke masyarakat.
"Pak Prabowo mau bikin program, sekali lagi, retret lagi yaitu (pesertanya) staf khusus atau juru bicara kementerian untuk retret komunikasi. (Prabowo anggap komunikasi pemerintah masalah utama?) Mungkin bukan PR besar, tapi semua sayap harus dikepakan secara sama."
"Jadi nggak cuma kerjanya yang ngebut, tapi komunikasinya juga harus kerja keras. Supaya yang kerja keras di sisi kebijakan, program, pembangunan, dan lain-lain, biar bisa tersampaikan dengan baik," katanya dalam program ROSI di YouTube Kompas TV dikutip pada Jumat (8/5/2026).
Hasan menjelaskan ada tiga hal yang perlu dimiliki oleh orang yang bekerja di pemerintahan.
Pertama, dia mengungkapkan orang di pemerintahan membutuhkan nyali di mana tidak tahan ketika kebijakan yang dibuat berujung dikritik hingga dicaci oleh pihak lain. Padahal, kebijakan tersebut sudah berdasarkan riset panjang.
Ia menegaskan bahwa orang yang berada di pemerintahan perlu untuk terus menjelaskan kepada masyarakat terkait manfaat dari kebijakan yang dibuat meski banyak kritik berdatangan.
Baca juga: Prabowo Disebut Tak Bahas Isu Perubahan Sistem Pemilu dalam Retret Ketua DPRD se-Indonesia
Namun, Hasan menegaskan mental semacam itu tidak diartikan bahwa orang di pemerintahan tidak peka terhadap kritik atau tone deaf.
"Pemerintah atau K/L butuh nyali. Kita tuh kadang-kadang langsung surut, di-bully 20 orang langsung surut. Udah diam aja deh, udah di-bully kita. Padahal ini penjelasan teknokratis, sudah dihitung lama, begitu ada orang yang salah paham, tapi salah pahamnya disambut viralitas, kita mundur karena di-bully."
"Kita harus punya nyali untuk menjelaskan itu (kebijakan) terus. Jangan terlalu pusing dengan bully-an. Bukan berarti kita tone deaf, tapi kita yakin dengan apa yang sudah kita hitung dari awal," beber Hasan.
Kedua, Hasan mengatakan orang di pemerintahan perlu strategi untuk mengkomunikasikan programnya di tengah perkembangan teknologi komunikasi saat ini.
Dia menyebut salah satu strateginya yakni merangkul homeless media untuk menyampaikan ke masyarakat terkait program pemerintah.
Namun, Hasan menegaskan upaya itu bukan berarti pemerintah mengontrol media.
"Dengan banyaknya perkembangan media sekarang, kita butuh strategi. Merangkul homeless media adalah bagian dari strategi, tapi bukan merekrut, saya tidak terima dengan hal itu," ujarnya.
Terakhir, Hasan mengatakan perlunya orang di pemerintahan untuk bisa membangun narasi ketika menyampaikan kebijakan yang akan diterapkan.
Baca tanpa iklan