Berdasarkan catatan sejarah, perubahan besar dalam struktur Polisi Militer terjadi setelah diterbitkannya Surat Keputusan Panglima TNI Nomor KEP/1/III/2004 oleh Panglima TNI saat itu, Jenderal TNI Endriartono Sutarto.
Kebijakan tersebut mengatur penyelenggaraan fungsi kepolisian militer di lingkungan TNI.
Melalui keputusan itu, masing-masing angkatan memiliki institusi Polisi Militer sendiri, yakni Polisi Militer Angkatan Darat (POMAD), Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL), dan Polisi Militer Angkatan Udara (POMAU).
Selain itu, dilakukan pula penyesuaian organisasi di berbagai matra demi memperkuat fungsi pengawasan dan penegakan hukum.
Sebelumnya, Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI telah lama menjalankan fungsi pembinaan hukum dan kedisiplinan di lingkungan TNI, bahkan sejak masa ketika institusi kepolisian masih menjadi bagian dari ABRI.
Perubahan struktur kembali dilakukan pada tahun 2015 di masa kepemimpinan Panglima TNI Jenderal Moeldoko.
Susunan organisasi yang sebelumnya bernama Staf Khusus POM-TNI kemudian diubah menjadi POM-TNI untuk memperkuat efektivitas penegakan hukum dan ketertiban internal di lingkungan militer.
Keberadaan Polisi Militer TNI dinilai memiliki peran penting dalam menjaga citra profesionalisme prajurit sekaligus memastikan aturan dan hukum tetap ditegakkan secara disiplin di setiap angkatan.
2. World Ego Awareness Day (Hari Kesadaran Ego Sedunia)
Selain diperingati sebagai Hari Polisi Militer TNI, tanggal 11 Mei juga dikenal secara internasional sebagai World Ego Awareness Day atau Hari Kesadaran Ego Sedunia.
Peringatan ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2018 melalui Gerakan Kesadaran Ego yang digagas dengan nama “Anon I mus”, dikutip dari Daysoftheyear.com.
Tujuan utama dari peringatan ini adalah mengajak masyarakat untuk lebih sadar terhadap pengaruh ego dalam pola pikir, perilaku, dan hubungan sosial.
Hari Kesadaran Ego Sedunia hadir sebagai pengingat bahwa ego bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk, tetapi perlu dikenali dan dikelola dengan baik.
Ego yang tidak terkendali dapat memunculkan berbagai sikap negatif, seperti sulit menerima kritik, merasa selalu benar, hingga memandang keberhasilan orang lain sebagai ancaman.
Melalui peringatan ini, masyarakat diajak melakukan refleksi diri terhadap kebiasaan emosional yang sering kali tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari.
Kesadaran terhadap ego dianggap penting karena dapat membantu seseorang membangun hubungan sosial yang lebih sehat dan komunikasi yang lebih bijaksana.
Baca tanpa iklan