TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) angkat bicara polemik seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional di Sulawesi Selatan.
Hal ini setelah jagat maya dihebohkan oleh isu pencoretan dan dugaan diskriminasi etnis yang menimpa seorang siswi asal Kota Makassar berinisial CYL.
Wakil Kepala BPIP, Rima Agristina, menyebut bahwa seluruh tahapan seleksi berjalan dengan objektif.
Ia menjamin tidak ada ruang bagi perlakuan diskriminatif dalam proses penyaringan calon pengibar bendera tersebut.
"Tadi berdasarkan pertanyaan tadi bahwa ada diskriminasi, kami pastikan bahwa setiap proses itu juga dimonitor oleh BPIP. Jadi tidak ada tindakan diskriminasi tersebut," ucap Rima di Kantor BPIP, Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Rima mengaku pihaknya tidak tinggal diam dan telah mengirimkan tim khusus ke Sulawesi Selatan untuk mengusut tuntas duduk perkara yang sebenarnya.
Ia memastikan prosesnya tidak menabrak regulasi.
"Kami langsung menerjunkan tim untuk melihat apakah isu tersebut berkembang sesuai apa yang disampaikan, ya, dan kami mengecek memastikan bahwa penanganannya itu sesuai dengan peraturan yang ada," lanjutnya.
Selain melakukan pengawasan langsung di lapangan, BPIP juga bergerak mengumpulkan data dari lini birokrasi daerah.
Mereka mengonfirmasi telah menerima laporan resmi serta penjelasan dari pihak panitia seleksi di tingkat provinsi.
"Kita sudah melihat sudah ada pernyataan dari pemerintah daerah setempat, ya," ucap dia.
Gelombang protes di media sosial sebelumnya dipicu oleh kabar mengejutkan bahwa CYL mendadak terdepak dari posisi tiga besar calon utusan putri Sulawesi Selatan yang sedianya dikirim ke Jakarta.
Posisi CYL disebut-sebut digantikan oleh siswi lain asal Kabupaten Jeneponto yang dirumorkan bahkan tidak masuk dalam peringkat 10 besar seleksi.
Isu ini kian sensitif setelah muncul tudingan netizen mengenai adanya sentimen etnis di balik keputusan tersebut.
Baca tanpa iklan