TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menyatakan bahwa kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis pada akhir Mei lalu bukan sekadar lawatan bilateral biasa,.
Melainkan langkah strategis menempatkan Indonesia sebagai perancang tatanan ekonomi dan keamanan Indo-Pasifik abad ke-21.
Menurut Azis, dunia saat ini berada pada titik belok terpenting sejak berakhirnya Perang Dingin, di mana pusat gravitasi ekonomi dan persaingan geopolitik bergeser ke Asia.
"Di tengah perubahan itu, Indonesia tidak lagi berdiri di pinggiran peta. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, posisi geografis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta cadangan mineral strategis yang menjadi bahan baku industri masa depan, Indonesia semakin dipandang sebagai salah satu negara kunci dalam percaturan Indo-Pasifik," kata Azis kepada wartawan, Rabu (3/6/2026).
"Kesadaran itulah yang tampaknya menjadi landasan dari diplomasi yang dijalankan Presiden Prabowo," ujarnya menambahkan.
Azis menilai, pola diplomasi yang dijalankan pemerintah saat ini sangat menarik karena Indonesia tidak mengekor pada satu kutub kekuatan dunia.
Baca juga: Feri Amsari Penasaran Alasan Prabowo Sering ke Prancis: Agak Janggal di Mata Publik
Di saat dunia terbelah, Indonesia justru memperluas lingkaran kemitraan.
Menurut dia, bangsa yang ingin menjadi aktor strategis tidak boleh terjebak menjadi negara satelit bagi pihak mana pun.
Lebih lanjut, Azis menyoroti pentingnya peran Perancis di mata Indonesia.
Prancis bukan hanya kekuatan ekonomi Eropa, tetapi juga anggota tetap Dewan Keamanan PBB, pemimpin teknologi pertahanan, dan satu-satunya negara besar Uni Eropa yang memiliki kehadiran militer langsung di Indo-Pasifik.
Oleh karena itu, pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebut Indonesia sebagai mitra strategis utama di Indo-Pasifik bukanlah sekadar basa-basi diplomatik.
"Pernyataan itu mencerminkan cara pandang baru terhadap posisi Indonesia dalam konfigurasi kekuatan global yang sedang berubah. Indonesia tidak lagi dilihat semata sebagai pasar yang besar. Indonesia semakin dipandang sebagai salah satu penentu keseimbangan kawasan," ucapnya.
Baca juga: Prabowo Kembali dari Prancis, Bawa Kesepakatan Investasi Senilai USD 3,5 Miliar
Azis mengungkapkan, pandangan ini diwujudkan secara konkret melalui kesepakatan kedua negara untuk meningkatkan hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif.
Cakupan kerja samanya pun sangat luas, mulai dari pertahanan, keamanan maritim,energi bersih, mineral kritis, hingga riset dan inovasi.
Baca tanpa iklan