Azis mengingatkan publik untuk melihat gambaran besar dari lawatan kenegaraan ini. Selama ini, diplomasi kerap hanya dinilai dari seberapa banyak nota kesepahaman (MoU) yang diteken atau besaran nilai investasi yang masuk.
Padahal, berkaca dari sejarah negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, diplomasi adalah instrumen transformasi, bukan sekadar transaksi.
Azis menyebut, cadangan nikel, tembaga, dan bauksit yang dimiliki Indonesia baru akan menjadi kekuatan riil jika terhubung dengan transfer teknologi dan industrialisasi.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa makna paling penting dari kunjungan tersebut bukan terletak pada angka miliaran dolar yang diumumkan kepada publik.
"Nilai sesungguhnya terletak pada kemungkinan lahirnya transfer teknologi, penguatan kapasitas industri nasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta terbukanya jalan bagi Indonesia untuk naik dari pemasok bahan mentah menjadi pemain penting dalam rantai nilai global," tegas Azis.
Baca juga: Sosok Dino Patti Djalal, Dulu Kritik Menlu Sugiono kini Kritik Kunjungan Luar Negeri Prabowo
Selain ekonomi, Azis juga menekankan dimensi keamanan pertahanan. Di era modern, ancaman tidak hanya berupa konflik militer konvensional, tetapi juga gangguan rantai pasok, perang siber, dan krisis energi.
Ia menambahkan, keamanan nasional tidak lagi dapat dipisahkan dari kekuatan ekonomi. Kerja sama pertahanan dengan Prancis, kata Azis, adalah upaya membangun kapasitas nasional di tengah dunia yang tak pasti.
"(Lawatan Prabowo ke Prancis) akan dibaca sebagai salah satu momen ketika Indonesia mulai melangkah dari ruang penonton menuju ruang perancang; dari sekadar mengikuti arus perubahan dunia menjadi salah satu bangsa yang ikut menentukan arahnya," imbuhnya.
Baca tanpa iklan