TRIBUNNEWS.COM - Kenaikan BI Rate yang dibarengi naiknya harga BBM non-subsidi serta melemahnya nilai tukar rupiah dinilai memberikan dampak berlapis terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Tekanan tersebut diperkirakan akan semakin terasa dalam kebutuhan sehari-hari hingga biaya pendidikan anak sekolah.
Pengamat Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS), Lukman Hakim mengatakan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) otomatis akan berdampak pada bunga pinjaman masyarakat.
Sementara kenaikan harga BBM juga memicu naiknya harga berbagai kebutuhan pokok.
“BI rate naik sama harga BBM naik itu kan jadi dampaknya berlapis ya di masyarakat. Saya rasa kalau situasinya seperti itu jadi BI rate kan naik otomatis pinjaman naik,” ujarnya, kepada Tribunnews, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Investasi Emas di Tengah BI Rate dan Harga BBM Naik Masih Aman? Ekonom: Saham Amburadul
Harga Barang Berbahan Impor Akan Naik
Ia menjelaskan, tekanan ekonomi semakin berat karena nilai tukar rupiah yang melemah membuat harga barang berbahan impor ikut terkerek naik.
“Kemudian BBM naik kan otomatis kebutuhan bahan pokok naik, belum lagi nilai tukar melemah. Itu barang-barang yang ada komoditi impornya kayak roti, kemudian gandum, mie ayam, tempe itu pasti naik semua kan,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat perlu segera melakukan penyesuaian pola pengeluaran agar kondisi keuangan rumah tangga tetap aman.
“Nah otomatis ya cara penyelesaiannya standar bahwa ya akhirnya harus melakukan yang namanya efisiensi. Kemudian yang kedua menetapkan prioritas konsumsi,” tuturnya.
Ia menambahkan, tekanan pengeluaran masyarakat diperkirakan semakin terasa memasuki tahun ajaran baru sekolah pada Juni dan Juli yang membutuhkan biaya tambahan.
“Ini apalagi nanti bulan Juni, Juli kan anak sekolah pada masuk sekolah, itu butuh biaya juga dan macam-macam sehingga saya rasa pilihan yang paling mudah adalah ya membuat skala prioritas,” ujarnya.
Kebutuhan Mendesak Dipenuhi Terlebih Dahulu
Karena itu, masyarakat diminta memilah kebutuhan yang benar-benar penting dan mendesak untuk dipenuhi terlebih dahulu.
“Mana yang mendesak, mana yang kurang mendesak, kebutuhannya dilihat lagi."
"Artinya kalau konsumsi jelas mendesak ya kita utamakan, tapi mungkin kalau yang terkait dengan barang-barang yang mungkin tidak terlalu penting tidak harus dibeli dulu. Kita perlukan bahan-bahan yang utama kemudian anak sekolah dan seterusnya,” pungkasnya.
Diketahui Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen, tak hanya itu suku bunga Deposit Facility juga naik 25 bps menjadi 4,50 persen, sementara Lending Facility naik 25 bps menjadi 6,25 persen.
Sementara itu Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi, mulai 10 Juni 2026 harga BBM non-subsidi Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)
Baca tanpa iklan