Dan, logikanya, ini kekayaan kita. Masa kekayaan kita, ya, diolah, diambil, dijual ke luar negeri, hasil jualannya tidak ditaruh di Indonesia? Masuk akal atau tidak, coba? Ya. Kalau, katakanlah Saudara punya warung. Setiap hari Saudara jualan, ya, setiap hari Saudara jualan. Jualan apa saja di warungmu. Dan, setiap hari keuntunganmu kau taruh di tempat tabunganmu. Di lemarimu, atau di lacimu, atau di mana. Kemudian laci itu, lemari itu, tas itu diambil orang lain. Kamu merasa biasa atau tidak? Tabunganmu diambil.
Saudara-saudara,
Selama berapa puluh tahun, tabungan Indonesia diambil. Dan, uangnya tidak ditaruh di Indonesia, ditaruh di luar negeri. Dan, kita kadang sekarang, uh, iya, kan.
Saudara-saudara,
Saya tadi dikatakan berapa kali maju jadi presiden, untuk jadi presiden. Tadi disebut, apa, tiga kali kalah. Salah, empat kali kalah. Iya. Saya usaha jadi presiden dari 2004, Konvensi Golkar, ya, kan. 2004, 2009, 2014, 2019, 2024. Lima kali, empat kali kalah, empat kali kalah. Orang bingung sudah empat kali kalah masih mau maju lagi. Saudara-saudara, ada analis-analis, ya, podcast-podcast, ya, Prabowo pengin banget jadi presiden, sampai sekian kali.
Saudara-saudara,
Kenapa saya ingin jadi presiden? Saya ingin jadi presiden karena saya sudah lihat dari tahun 90-an, Indonesia menuju arah yang salah. Saya sudah melihat. Saya bukan mau jadi presiden hanya untuk jadi presiden. Lu kira enak? Iya, kan? Karena kadang-kadang masyarakat elite kita ini elite yang memang kejam. Elite kita ini, ya, tapi hampir semua elite bangsa-bangsa seperti kita ribut terus.
Sukanya, elitenya suka ribut, rakyat tidak. Rakyat paling ngerti, rakyat ngerti bahwa untuk dapat hidup yang baik harus ada kerukunan, harus ada apa, harus ada paguyuban, harus ada kerja sama, harus ada saling mengisi, bukan saling menghantam. Tapi elite semakin pintar. Jadi ada presiden kayak Pak Jokowi yang jarang ke luar negeri. Disalahkan, iya, kan. “Jokowi enggak pernah ke luar negeri, Jokowi tidak peduli politik luar negeri.” Saya sering ke luar negeri, “Prabowo sering ke luar negeri.” Aneh.
Sebetulnya enggak ada masalah gitu. Situasi mungkin berubah. Sekarang dinamikanya geopolitik begitu kacau. Kita tidak tahu kawan siapa, lawan siapa. Kita beruntung, saya beruntung, Presiden Indonesia menerima warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita, bahwa politik luar negeri Indonesia adalah politik non-aligned, politik nonblok. Kita bersahabat sama semua negara, kita bersahabat sama semua kekuatan.
Kita tidak mau terlibat dengan pakta-pakta militer siapa pun. Karena itu, begitu saya menerima mandat sebagai presiden, saya langsung, saya langsung gariskan politik luar negeri kita meneruskan politik non-aligned, politik nonblok, politik bebas aktif. Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Ini adalah garis yang saya tempuh. Sekarang saya baik sama Presiden Putin, baik saya. Tapi saya baik juga sama Presiden Trump. Di sini saya disalahkan, di situ saya disalahkan, tapi enggak ada masalah.
Saudara-saudara,
Noise selalu ada, yang penting kita yakin garis kita di mana. Selama saya yakin saya kerja untuk bangsa dan rakyat Indonesia, selamanya saya tidak ragu ragu.
Saudara-saudara, Saudara-saudara,
Kadang-kadang kita sebagai negara yang disukai oleh banyak negara. Indonesia sekarang disukai, Indonesia dicari karena Indonesia dikenal tidak mau punya musuh. Nah, sekarang saya tanya kepada Saudara, saya tanya kepada Saudara, ya. Karena ada, ada yang sok lebih pintar dari segala-galanya. Bayangkan saya sebagai Presiden Indonesia, saya dipilih oleh rakyat untuk menjaga rakyat Indonesia.
Sekarang, kalau ada negara superpower, ya, katakanlah Presiden Trump, mengundang saya ke Amerika, berani saya enggak datang? Kalau Presiden Amerika Serikat mengundang Presiden Indonesia dan Presiden Indonesia enggak hadir, coba saja.
Jadi, Saudara-saudara, sudah Presiden Amerika undang, Presiden Rusia undang juga. Gue nongol di Washington, gue enggak nongol di Moskow, enggak bisa, Saudara-saudara. Habis itu diundang lagi oleh Presiden Xi Jinping, ya gue hadir, benar enggak? Diundang lagi oleh India. India 1,4 miliar orang, ya. Pasarnya besar, teknologinya hebat. Jadi, Brasil sama.
Jadi, Saudara-saudara, inilah risiko negara yang sahabatnya banyak. Kita Indonesia ini negara terbesar di ASEAN, kita anggota APEC, anggota Konferensi Islam (OKI), anggota, sekarang anggota BRICS, anggota G20.
Kita kalau diundang kita enggak hadir, ya, ini saya mau cerita sama Saudara-saudara. Untuk membela kepentingan rakyat memang kita harus memelihara hubungan baik dengan semua pemerintah itu. Makanya, saya katakan politik Indonesia adalah politik tetangga yang baik. Kita ingin menjadi tetangga yang baik kepada semua negara sekitar kita dan negara yang lain di dunia, Saudara-saudara sekalian.
Saudara-saudara,
Kemarin saya, dua hari, tiga hari ini saya menerima berapa, 18 duta besar. Hampir semuanya menyampaikan undangan dari presiden dan perdana menteri masing-masing. “Kami berharap Presiden Indonesia dapat berkunjung ke negara kami.” Bayangkan 18 negara itu, terbangnya udah klenger aku.
Saudara-saudara,
Ini saya hanya cerita. Saudara-saudara sebagai pemimpin-pemimpin muda yang di antara Saudara, ya, pasti akan ada yang akan muncul sebagaimana ketua-ketua umum sebelumnya. Saudara adalah wadah pemimpin, jadi Saudara harus mengerti, mengerti masalah bangsa. Saya di forum ini pada kesempatan ini, saya ingin mengingatkan Saudara-saudara.
Baca tanpa iklan