Setialah kepada sejarah kita sendiri. Tanpa kesetiaan kepada sejarah, tanpa cinta tanah air, kamu tadi, saya sudah tayangkan, mbahnya kapitalisme, tidak ada pertumbuhan tanpa nasionalisme, Saudara-saudara.
Dan, pengusaha-pengusaha haruslah jadi pengusaha yang patriotik. Saudara menumpuk kekayaan, saya kira semua ajaran apakah agama, apakah filosofi, semua ajaran kekayaan yang kau dapatkan dengan baik gunakanlah untuk tujuan yang baik, gunakanlah untuk membantu orang yang belum mampu, Saudara-saudara sekalian. Baru Indonesia akan bangkit.
Tapi, kalau Saudara kaya raya, habis itu kekayaannya kau bawa lari di luar negeri dan kau tidak peduli dengan rakyat sekitarmu, ya, masa depan bangsa kita tidak akan baik. Bangsa kita baik karena nilai-nilai bangsa kita. Di antara nilai nilai bangsa kita yang harus kita jaga adalah nilai-nilai yang turun-temurun dari nenek moyang kita, antara lain gotong-royong, saling membantu. Yang kuat angkat yang lemah.
Para pengusaha kunci dari kebangkitan suatu bangsa. Saudara yang akan menciptakan lapangan kerja. Karena itu pemerintah harus membuat keadaan yang baik untuk para pengusaha. Keadaan yang baik itu, antara lain hukum harus kita tegakKan. Kalau kita tidak tegakkan hukum yang terjadi adalah hukum rimba, hukum liar, yang terjadi adalah hukum berdasarkan kekuatan dan di ujungnya tidak baik bagi kita semua.
Ada yang mengatakan Prabowo tidak suka dan nanti akan mengusir investor-investor asing, ternyata tidak seperti itu. Saya ketemu banyak investor-investor yang akan masuk. Tapi, kita ngerti bahwa di antara kita ada yang selalu tidak suka dengan berlakunya hukum. Mereka suka keadaan yang liar.
Jadi, Saudara-saudara, saya titip HIPMI bangkitlah dengan semangat cinta tanah air yang luar biasa. Akan ada kesulitan, pasti ada kesulitan. Sekarang tidak hanya kita yang sulit, hampir seluruh dunia yang sulit karena perang teluk, ya, ada Selat Hormuz, ada Laut Merah, tapi kita bersyukur kekuatan kita besar.
Akan ada tantangan. Kita sekarang sudah swasembada pangan, sudah swasembada pangan. Jangan kau anggap pangan itu tidak penting, tanpa pangan tidak ada republik manapun di dunia ini. Tidak ada negara tanpa pangan. Banyak negara sekarang dalam keadaan panik, mereka sulit cari makan. PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) sudah warning tahun ini akan ada kelaparan besar-besaran. Kita alhamdulillah kuat. Ini tidak bisa kita tutup mata.
Saudara-saudara,
Kita menuju swasembada energi. Kita sedang bekerja keras, perhitungan kita tiga tahun lagi kita benar-benar sangat kuat di bidang energi, Saudara-saudara sekalian.
Saudara-saudara sekalian,
Dan, yang paling penting kita akan melakukan industrialisasi, industrialisasi. Kita akan melaksanakan industrialisasi melalui hilirisasi. Semua komoditas kita akan kita olah dan akan menjadi industri-industri di Indonesia. Ini kesempatan untuk pengusaha-pengusaha muda bangkit, karena kita tidak mau hanya jadi pasarnya bangsa lain, kita mau pasar Indonesia harus dinikmati oleh putra putri Indonesia.
Setelah 81 tahun merdeka, kita harus punya mobil buatan Indonesia sendiri. Kita sudah mulai merintis sekarang, TNI sudah pakai jip buatan putra putri Indonesia sendiri. Presidenmu, presidenmu, saya sekarang pakai mobil buatan rakyat Indonesia sendiri.
Ini kayak kampanye saja ini. Kampanye masih lama. Ini aku ke sini lagi menggugah semangatmu.
Jadi, Saudara-saudara, berapa hari yang lalu, berapa hari yang lalu. Enggak, ini aku mau cerita ini, ya. Aku mau cerita ini berapa hari yang lalu, saya dengar pembicaraan di antara, di antara anak buah saya. Mereka tanya, “Eh, harga mobil ini berapa, ya? Harga mobil itu berapa, ya?” Begitu. Saya pikir, “Wah, aku udah enggak bisa lagi nanya-nanya seperti itu.”
Suka tidak suka, karena saya presiden, saya harus kasih contoh saya harus pakai mobil buatan anak-anak Indonesia. Jadi, jadi saya mengerti. Ini, kan, mobil baru satu [sampai] dua tahun kita bangun, iya, kan. Yang namanya sesuatu yang baru, ya, mungkin tidak sebagus kalau saya pakai BMW atau Mercedes, iya, kan.
Kalau Pak Ara pakai Mercedes mungkin, ya. Aku udah enggak bisa lagi. Saya pakai Maung. Nah, suatu saat saya ini suka tidur di mobil, ya, saya suka tidur di mobil. Jadi suatu saat saya lagi tidur di mobil, tahu-tahu karena hujan keras di luar, saya tidur tahu-tahu tik, tik. Saya bangun. Rupanya bocor. Yang namanya baru, ya, kan. Ya aku kirim kembalilah ke, ini kan buatan Pindad. Aku bilang, “Eh, Pindad, tolonglah bocornya dikurangi gitu.” Habis itu pakai mobil naik gunung geredak, geredak, geredak. Tapi geredak enggak apa-apa, demi nasionalisme saya tetap pakai mobil ini.
Saudara-saudara, Saudara-saudara, Saudara-saudara, Saudara-saudara,
Saudara harus ingat, Saudara harus ingat orang tuamu. Waktu kau kecil orang tuamu berjuang keras mencari sepatu untuk kamu berangkat sekolah, mencari baju untuk kamu. Mungkin temanmu sepatunya lebih bagus, tapi ini sepatu dari orang tuamu. Mau bagus, mau bocor, mau geredek-geredek mobil itu buatan, buatan anak-anak Indonesia. Berarti dari ibu kita, ibu pertiwi, Saudara-saudara sekalian.
Ya sudah, sebentar. Saya minta izin, kalau sudah begini harus minum kopi saya. Kalau udah begini bisa dua jam lagi saya bicara.
Saudara-saudara, Saudara-saudara,
Percayalah masa depan Indonesia luar biasa, Saudara-saudara sekalian. Tapi, tapi kuncinya adalah kita harus bersatu, kita harus rukun. Suku berbeda, agama berbeda, latar belakang, latar belakang boleh berbeda, partai boleh berbeda, tapi cinta tanah air tidak boleh luntur dari kita. Benar tadi, habis bertarung jadi satu. Kita harus kerja. Makanya saya selalu, saya selalu menggagas, mengusulkan gagasan Indonesia Incorporated.
Indonesia Incorporated adalah Indonesia sebagai satu kesatuan, satu kesatuan ekonomi. Kita bersaing bukan bersaing untuk saling membunuh, kita bersaing untuk saling mengangkat, Saudara-saudara sekalian. Bersaing untuk saling mengangkat, bersaing untuk saling memperkuat. Hanya bangsa yang bodoh yang mau bertikai, yang mau konflik.
Kita lihat, lihat dengan mata kita, lihat dengan mata kita apa yang terjadi kepada bangsa-bangsa lain yang kaya raya, yang punya kekayaan luar biasa, punya gas, punya minyak, punya emas, tapi perang, perang, perang. Perang saudara. Saya sedih banyak di antara mereka itu kawan saya semua, saya sedih. Saya sangat sedih.
Contoh, Sudan. Sudan kaya luar biasa, perang terus. Pertama perang utara sama selatan. Utara Islam, selatan Kristen. Yang selatan, misahkan diri. Begitu misahkan diri, selatan perang sama perang. Kristen sama Kristen perang. Yang utara, Islam sama Islam perang. Rakyat jutaan, jutaan hilang rumah. Puluhan ribu mati. Negara sangat kaya. Libya, negara sangat kaya. Irak, negara sangat kaya. Suriah, Saudara-saudara.
Jadi, anak-anak muda, pemimpin-pemimpin muda, bangunlah budaya yang baik. Nasionalis, tapi kerja sama. Jangan membenci, jangan selalu dendam. Dua hal yang sudah harus kita hindari. Jangan benci, jangan dendam. Bersaing, biasa. Menang, kalah, enggak ada masalah. Nyatanya saya lima kali di maju, empat kali kalah, yang penting terakhirnya saya diberi kesempatan.
Dan, Saudara mau percaya atau tidak percaya, saya, waktu saya, waktu saya menang diumumkan oleh KPU, ya. Saya menang diumumkan oleh KPU, you bisa cek saya menang dengan angka 58,58 persen. Jadi tunggu, tunggu, tunggu. 58, 5 plus 8 [sama dengan] 13, benar? 5 sama 8 [sama dengan] 13, 13 sama 13 [sama dengan] 26, 2 tambah 6 [sama dengan] 8. Ini kayak kampanye di kecamatan, asik juga ini, asik juga, ya. Jangan-jangan ini Gerindra semua ini.
Saudara-saudara,
You boleh cek lagi, waktu diumumkan di TV saya lihat jam, ya, diumumkan jam 14.03 WIB. 14.03 WIB. 1 sama 4 [sama dengan] 5, 5 sama 3 [sama dengan] 8.
Saudara-saudara,
Ini baru pembukaan. Ini, ini ada 28 slide, bagaimana? Dibacakan? Enggak, enggak, enggak.
Saudara-saudara,
Salah satu, salah satu kemampuan pemimpin harus bisa merasakan kemauan rakyat. Dan, dan saya merasakan rakyat saya ini yang duduk di depan ini sudah capai, betul? Sudah, gue sudah, gue sudah tahu lu. Sudah tahu, saya sudah tahu. Tapi kalian malu, nanti dibilang HIPMI tidak semangat, jadi semangat. Padahal, padahal di hatimu, “Apalagi dia orang ngomong lagi.” Benar, kan? Benar.
Pokoknya, Saudara-saudara, Saudara-saudara, percayalah kita berada sudah di jalan yang benar. Kita sudah kembali kepada Pancasila yang benar, Undang-Undang Dasar ‘45 yang benar. Kita mau bangun Indonesia yang bersatu. Semua suku, semua agama, semua kelompok etnis, semua ras, semua budaya bersatu untuk kita bangkit. Percaya, masa depan kita luar biasa, Saudara-saudara. Kalau enggak, kalau enggak luar biasa gue enggak mau jadi Presiden Indonesia.
Saudara-saudara,
Saya mengajak sekarang, ya, karena ini HIPMI. HIPMI pengusaha, pengusaha. Tunggu dulu, pengusaha Indonesia banyak dosanya. Betul? Lu enggak bisa bohong sama gue, gue sudah ngerti lu. Itu tokoh-tokoh HIPMI ini gue kenal dari kecil. Bambang Wiyogo gue kenal dari dia masih punya rambut. Ini semua satu-satu ini kenal semua itu. Cicip, ini semua gue kenal semua itu. Bang Latief gue kenal juga.
Saudara-saudara,
Tapi, sudahlah. Ya, enggak apa-apa. Dosa kita tutup, kita bangkit ke depan. Sekarang jangan coba-coba melanggar hukum. Saudara akan, Saudara akan kalah, kenapa? Sekarang ada teknologi, sekarang ada AI (artificial intelligence), ada kecerdasan. Sekarang semua dokumen setebal ini bisa dibaca dalam lima menit. Kontrak setebal ini, lima menit.
Jadi, Saudara-saudara, mari kita raih masa depan yang baik, ya. Kita kuasai, kita kendalikan semua untuk sebesar-besar kemampuan rakyat kita. Kita percaya, kita bisa membangun Indonesia yang hebat. Semua negara melihat sebenarnya Indonesia tidak terbendung. Kita sudah algoritmanya sudah ada, hitungannya sudah ada. Kalau kita pandai dan kita cerdas, 2045 kita ekonomi keempat terbesar di dunia, Saudara-saudara. Ya, yang muncul nanti nomor 1 Tiongkok, nomor 2 Amerika Serikat, nomor 3 India, nomor 4 Republik Indonesia.
Saudara-saudara,
Dan, pada saat itu, 2045, adalah 19 tahun lagi, kan? 20 tahun lagi, ya? 20 tahun lagi Saudara-saudara berada di puncak karirmu. Saya nanti di Hambalang monitor kalian di bawah. Kalau belum dipanggil Yang Maha Kuasa. Kalau dipanggil Yang Maha Kuasa aku lihat, tetap saya monitor kalian. Kalau kalian kurang ajar, malam-malam aku turun nyari kau. Jangan main-main kau. Kau melanggar berkhianat kepada Merah Putih, aku turun aku cari kau.
Slide-slide enggak usah, ya? Kalian, eh, mana saya punya staf? Buku-buku sudah dibawa? Sudah terima buku-buku saya? Belum? Ini penutupan tanggal berapa? Tanggal berapa? Besok? Besok penutupan? Tolong, ya. Besok buku-buku saya sudah di sini semua. Tapi buku saya dibaca, jangan dipajang saja, ya, kan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara-saudara,
Inti-intinya sudah saya sampaikan. Kita butuh pengusaha-pengusaha yang militan, yang semangat, yang cerdas, yang tidak mengenal menyerah. Jatuh, bangkit lagi, jatuh, bangkit lagi, jatuh lagi, bangkit lagi. Dan selalu saya titip, kita harus bersatu, gotong-royong. Kalau ada yang menghasut, memecah belah, yakinlah dia bekerja untuk orang lain bukan untuk orang Indonesia, Saudara-saudara. Yang nyinyir, nyinyir, nyinyir, biar.
Ingat, ya, ajaran dari guru-guru kita, biar anjing menggonggong kafilah tetap terus. Kita berada di jalan yang benar, kita akan menuju kemenangan dan kehebatan, Saudara-saudara sekalian. Dulu waktu pejuang-pejuang kita, waktu mereka mengatakan merdeka, banyak juga yang nyinyir. “Merdeka? Bagaimana kita mau merdeka? Bikin peniti saja tidak bisa.” Dulu, kan, begitu. Tapi, kita merdeka.
Saudara-saudara,
Percaya kepada pemimpinmu. Kami tidak akan berkhianat kepada kalian, kami tidak akan berkhianat kepada bangsa Indonesia. Dari waktu muda pun kami siap mati untuk bangsa ini, Saudara-saudara. Saya ingin mati di atas jalan yang benar, saya ingin mati di atas jalan Merah Putih, saya ingin mati membela rakyat saya.
Kali ini, kali ini benar-benar wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita sekalian.
Terima kasih, HIPMI.
HIPMI jaya!
Baca tanpa iklan