Penelitian ini juga menyebutkan bahwa orang tua siswa terbantu dengan adanya program MBG.
Ada beberapa faktor yang membuat orang tua mendukung program ini seperti meringankan beban ekonomi, membantu orang tua yang sibuk, mencegah anak kelaparan, hingga menjadikan anak lebih sehat dan mengurangi konsumsi 'makanan sampah' atau junk food.
Kendati demikian, ada beberapa masalah terkait pelaksanaan program MBG mengacu pada penelitian ini.
Dari desain program, Pusat Kajian Sosiologi UI menyebut ada lima masalah yang terjadi yakni tidak adanya pelibatan instansi daerah, struktur komando yang kaku, kepemimpinan yang terlalu terpusat, aturan seperti SOP, juknis, dan menu terlalu tersentralisasi, serta pendanaan yang terpusat.
Sementara, dalam praktiknya di lapangan, ada empat kendala yang ditemukan seperti terkait pengiriman makanan.
"73,3 persen dari sekolah yang disurvei mengaku pernah menghadapi kendala dengan pihak dapur MBG. Kendala tersebut umumnya berupa keterlambatan pengiriman makanan," katanya.
Selanjutnya, terkait distribusi makanan dari dapur ke sekolah yang semakin sukit buntut beberapa masalah seperti perbedaan jadwal pengiriman hingga ada kasus di mana dapur membagikan makanan MBG berdasarkan afiliasi ormas keagamaan.
Baca juga: Pihak Swasta Tersangka Baru Korupsi MBG, Beri Uang ke Sony Sonjaya usai Diberi Izin Cari Mitra
Lalu, separuh responden mmengatakan pernah mengalami keterlambatan distribusi makanan ke sekolah.
"Hal ini berpengaruh pada kualitas makanan yang disediakan untuk siswa sekolah," ujarnya.
Terakhir yakni beban kerja dapur yang tinggi turut berperan dalam permasalahan MBG. Total ada empat masalah terkait beban kerja pegawai dapur MBG yakni:
- Kapasitas produksi yang masif memaksa jam masak terlalu dini
- Kelelahan pekerja dapur memperbesar human error
- Jam kerja ahli gizi yang terlalu panjang
- Variasi kebijakan yayasan untuk insentif bagi pekerja
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)
Baca tanpa iklan