Ringkasan Berita:
- Di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di Jalan MH Thamrin, pengemudi ojol menyuarakan keresahannya terkait beban ekonomi akibat kenaikan harga BBM.
- Kenaikan harga BBM nonsubsidi per 10 Juni 2026 memicu migrasi ke Pertalite dan kelangkaan stok, memaksa pengemudi ojol kembali membeli Pertamax dengan harga lebih tinggi.
- Giri, pengemudi ojol, mengungkapkan biaya isi BBM full tank melonjak dari Rp45 ribu menjadi Rp75 ribu per hari, memaksanya membatasi mobilitas untuk berhemat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah gemuruh aksi demonstrasi mahasiswa yang memadati kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026) malam, suara keresahan muncul dari Giri, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang menepi di pinggir jalan.
Meski tak bergabung langsung dengan kerumunan massa, kehadirannya di lokasi bukan tanpa alasan.
Sebagai pekerja yang mobilitasnya bergantung pada kendaraan roda dua, Giri merasakan langsung dampak buruk kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi—Pertamax menjadi Rp16.250 dan Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000—terhadap profesinya.
Beban Ganda Ojol di Tengah Kelangkaan
Migrasi massal konsumen ke Pertalite pasca-kenaikan harga telah memicu kelangkaan stok di sejumlah SPBU di Pulau Jawa, termasuk Jakarta.
Keterlambatan pengiriman dari depot Pertamina memaksa banyak pengendara kembali membeli BBM nonsubsidi demi menjaga mobilitas.
Giri, yang ditemui sekira pukul 19.00 WIB, menceritakan perubahan drastis dalam pengeluaran harian motor matic-nya.
Sebelumnya, ia hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp42 ribu hingga Rp45 ribu untuk mengisi tangki sampai penuh (full tank).
Kini, ia harus mengeluarkan biaya Rp70 ribu hingga Rp75 ribu untuk satu hari.
"Sebenarnya juga kami dari ojol-ojol juga kecewa ya, semua pada naik semua. Bensin ya pengaruh juga ke kita. Dari yang tadinya pendapatannya standar saja, sekarang jadi menurun banget," ucap Giri kepada Tribunnews.com.
Baca juga: Tetap Bertahan hingga Malam di Thamrin, Mahasiswa Tunggu Pemerintah Hadir Temui Mereka
Strategi Bertahan di Tengah Tekanan
Giri tidak mengungkapkan besaran pendapatan total yang dibawa pulang, namun ia menegaskan bahwa kenaikan harga BBM membuat pendapatan bersihnya menurun drastis.
Kondisi ini memaksanya mengubah kebiasaan dalam melakukan pekerjaan. "Dari kita yang tadinya sering muter ke mana untuk cari orderan, sekarang jadi menetap untuk irit bensin lah," ujar Giri.
Relevansi dengan Tuntutan Demonstrasi
Keresahan Giri sejalan dengan aspirasi ribuan mahasiswa yang sedang berdemonstrasi di lokasi yang sama.
Mahasiswa membawa lima tuntutan utama, di antaranya penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, penghentian pemborosan APBN, penolakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, penghentian militerisme di ranah sipil, serta desakan agar pemerintah mengakui kesalahan dan berhenti mengelak.
Melihat kondisi ekonomi yang kian terhimpit, Giri menitipkan harapan tegas kepada pemerintah.
"Ya kalau bisa ya jangan sampai naik lah. Turunin lagi lah," pungkas Giri.
Baca juga: Gelombang Demo Mahasiswa Meluas, Usai Jakarta Giliran Pemuda Yogya Bersiap Turun ke Jalan
Baca tanpa iklan