Menurut dia, perbedaan perspektif mengenai Rusia merupakan hal yang wajar dan justru perlu menjadi bahan diskusi antarnegara.
"Jadi, kami melihat bahwa kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif dibangun di atas tradisi, pengalaman, serta persepsi yang berbeda, tetapi ini tentu menjadi momen yang baik untuk mendiskusikan perbedaan persepsi ini," katanya.
Ia juga menegaskan Jerman tidak mempersoalkan apabila Indonesia menghadiri forum-forum yang melibatkan Rusia, termasuk pertemuan tingkat tinggi internasional, KTT ASEAN-Rusia.
"Dan tentu saja, jika ada KTT ASEAN-Rusia, kami tidak bisa mengatakan, 'Mengapa Anda pergi ke sana?' karena memang untuk itulah KTT dan pertemuan diadakan. Tetapi tentu saja, kami memiliki pandangan yang berbeda tentang Rusia dibandingkan dengan Indonesia, dan kami sangat terbuka serta bersedia untuk mendiskusikannya," pungkas Ralf.
Sebagai informasi Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier akan mengunjungi Indonesia dan bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto, di Jakarta pada Senin, 15 Juni 2026.
Kedatangan Steinmeier akan didampingi oleh delegasi bisnis dari sektor logistik, tenaga kerja, hingga digital, serta delegasi bidang budaya dan ilmuwan.
Ralf Beste menerangkan bahwa Indonesia merupakan kekuatan menengah yang sedang berkembang. Jerman melihat RI sebagai mitra kunci penting dalam situasi geopolitik seperti yang terjadi saat ini.
Sementara inti pembahasan Presiden Jerman dengan Presiden Prabowo adalah membicarakan Perjanjian Perdagangan Bebas EU-Indonesia CEPA (Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa) yang akan berlaku awal tahun depan.
Baca tanpa iklan