News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Demonstrasi di Berbagai Wilayah RI

Aksi Mahasiswa Menggema, Ini Catatan Eksponen 98

Penulis: Erik S
Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

MAHASISWA BERANI - Pegiat politik sekaligus eksponen Angkatan Reformasi 1998, Andrianto Andri, mengaku bangga melihat mahasiswa masih memiliki keberanian menyampaikan aspirasi di ruang publik

"Kami berharap seluruh elemen bangsa dapat melihat berbagai persoalan secara utuh. Pemerintah saat ini sedang fokus pada sejumlah program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Oktasari mengatakan mahasiswa memiliki posisi penting sebagai mitra kritis pemerintah dalam menyampaikan berbagai masukan dan aspirasi masyarakat.

Karena itu, menurut dia, penyampaian pendapat harus dipandang sebagai bagian dari dinamika demokrasi yang perlu dijaga bersama.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan dialog dalam menyikapi perbedaan pandangan yang muncul di ruang publik.

"Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh pihak dapat bersama-sama mencari solusi dan menjaga persatuan bangsa," tuturnya.

Lebih lanjut, Oktasari menegaskan pihaknya mendukung terciptanya ruang demokrasi yang terbuka, sekaligus mendorong adanya kritik dan masukan yang konstruktif bagi pemerintah.

Menurut dia, kolaborasi seluruh elemen masyarakat diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan dan menjaga stabilitas nasional.

Sentil Aparat Keamanan

Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menyentil pengawalan ketat aparat keamanan dan mengajak seluruh elemen bangsa meneladani keberanian mahasiswa dalam bersikap teguh tanpa rasa takut di negara demokrasi.

"Kemarin saya lihat BEM UI itu demo. Wah, kok saya tuh mikir 'ini sopo toh yo?' Ya apa boleh buat, polisinya toh, lalu Angkatan Daratnya. Terus saya tuh mikirnya begini... Mahasiswa itu masuk tidak sebagai warga negara Indonesia? Masuk! Itu menunjukkan apa? Hati kalian itu tidak teguh! Jadi mestinya jangan takut. Kalau iya ya iya, kalau tidak ya tidak. Nah saya berani ngomong gini, terus saya mau ditangkap? Ayo! Mana di sini ada polisi? Panggil sini!” cetus Megawati.

Ia menekankan pentingnya mentalitas merdeka yang harus dimiliki warga negara.

Di tengah kritiknya terhadap kondisi ekonomi, Megawati secara khusus menyampaikan bahwa dirinya bukan musuh Presiden Prabowo Subianto.

Ia menunjukkan bukti kedekatan mereka saat peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni lalu, guna menepis upaya pihak mana pun yang ingin membenturkan mereka.

“Pak Prabowo sama saya bersahabat. Tapi kan harusnya dipisahkan, bersahabat ya bersahabat, tapi berpolitik kita bisa untuk apa? Untuk demokratisasi. Tapi saya bukan musuh dia, itu teman saya. Kamu lihat toh waktu 1 Juni? Aku kan gandengan sama dia, ketawa-ketawa. Ayo, apa artinya? Nggak ada. Nanti baru orang teman-temannya yang maunya mem-berang-ko-kan (membenturkan), ‘Oh Ibu Mega itu coba gitu mau melawan Pak Prabowo’. Nanti bisa saya jawab. Jangan gitu dong! Kalian tuh harus berani, karena negara kita ini punya tata hukumnya,” jelas Megawati.

Selain menyoroti kenaikan harga di tingkat konsumen, Megawati juga menyampaikan keprihatinannya pada nasib petani sebagai "Soko Guru" bangsa.

Mengambil pelajaran dari konsep Marhaenisme yang diajarkan Bung Karno melalui dialognya dengan Pak Marhaen di Bandung, Megawati menegaskan pentingnya mengorganisir petani agar mandiri dan mampu mewujudkan kedaulatan pangan.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini