News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Komponen Datsun 80 Persen Buatan Lokal

Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Datsun meluncurkan model baru kendaraan multi purpose vehicle (MPV) Datsun Go dan All New Datsun Go+ di Jakarta Selatan, Selasa (17/9/2013). Kendaraan keluarga ramah lingkungan ini berbobot ringan dengan mesin 1,2 L dan transmisi 5 percepatan dengan harga di bawah Rp 100 juta. TRIBUNNEWS/HERUDIN

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Nissan Motor Indonesia menargetkan memproduksi 200.000 mobil Nissan dan Datsun hingga 2016.

"Tahun ini, masih 100.000," ujar Head of Datsun Indonesia, Indriani Hadiwidjaja, seusai pembukaan kompetisi Datsun Rising Challange di Kampus Itenas, Bandung, Senin (9/12) siang.

Khusus untuk Datsun, Indriani menargetkan penjualan lebih dari 30 persen di Jabar.

Perempuan itu bercermin pada penjualan Nissan di Jabar yang menjadi pasar kedua setelah Jakarta. Menurutnya, sejauh ini, penjualan Nissan di Jabar berkisar antara 20 hingga 30 persen. "Karena itu, kami mengharapkan kontribusi Datsun bisa lebih dari itu," katanya.

Indriani menyatakan, produksi Datsun dengan dua produk sekaligus, yakni Datsun Go dan Datsun Go+, bisa dimulai sekitar Januari atau Februari 2014. Selanjutnya, penjualan dimulai pada pertengahan tahun depan. Ia meyakini, Datsun banyak diminati orang di luar Jakarta.

Datsun Indonesia, ucapnya, menargetkan 80 persen komponen dua produk anyarnya itu diproduksi di Indonesia. Sekitar 20 persen sisanya, seperti transmisi, masih harus diimpor dari Jepang atau India. Ia menyebutkan investasi untuk Nissan dan Datsun mulai 2011 senilai 33 miliar dolar AS.

After sales Datsun bisa dilakukan di semua bengkel Nissan meskipun belum ada tulisan Datsun-nya tanpa syarat tambahan. Sejauh ini, Datsun memiliki 19 dealer yang tetap bergabung dengan Nissan.

Indriani tidak mencemaskan maraknya city car berbanderol di bawah Rp 100 juta. Menurut dia, Datsun justru menambah pilihan. "Semua punya porsi masing-masing. Pilihan makin banyak, malah konsumen yang diuntungkan. Ia pun tak khawatir dengan rencana BI untuk membatasi kredit konsumsi.

"Selama belum jelas, tak bisa memprediksi apa-apa. Namun, kami melihat perkembangan perekonomian di otomotif semakin meningkat. Tahun depan, mungkin ada impact-nya tetapi besarannya belum bisa diprediksi," kata Indriani. (tom)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini