Oleh: Prof. Muchtaridi
Pengajar Kimia GO, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran
TRIBUNNEWS.COM - Selama ini, kita sering memahami ibadah puasa sebatas menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Namun, jika kita menilik lebih dalam hingga ke tingkat seluler, puasa sejatinya adalah proses normalisasi metabolisme tubuh yang luar biasa kompleks dan presisi.
Tubuh manusia diciptakan dengan sistem pengaturan yang sangat cermat.
Menariknya, apa yang diperintahkan dalam syariat ternyata selaras dengan mekanisme biologis penjagaan tubuh hingga ke tingkat molekul.
Puasa bukan sekadar berhenti makan, melainkan cara tubuh mengatur ulang energi, memperbaiki kerusakan, dan menjaga keberlangsungan hidup jangka panjang.
Ketika Sel Kehilangan Kendali
Secara ilmiah, kanker muncul akibat hilangnya kendali atas pertumbuhan sel.
Dalam kondisi normal, sel memiliki sistem pengatur yang ketat: ia tahu kapan harus membelah, kapan harus berhenti, dan kapan waktunya mati melalui mekanisme apoptosis.
Namun masalah muncul ketika jalur pertumbuhan seperti mTOR (mechanistic Target of Rapamycin) dan sinyal insulin/IGF-1 aktif secara berlebihan dan kronis.
Jalur mTOR dikenal sebagai pusat kendali pertumbuhan sel yang sensitif terhadap ketersediaan nutrisi dan energi (Saxton & Sabatini, 2017).
Ketika nutrisi melimpah terus-menerus, mTOR mendorong sel untuk terus tumbuh dan membelah.
Dalam konsep hallmarks of cancer, Hanahan (2022; 2026) menjelaskan, salah satu ciri utama sel kanker adalah kemampuan mempertahankan sinyal pertumbuhan secara terus-menerus.
Pola hidup modern—makan berlebihan, tinggi gula, kurang aktivitas, dan tanpa jeda metabolik—menciptakan lingkungan biologis yang kondusif bagi aktivasi pertumbuhan kronik.
Akibatnya, stres oksidatif meningkat, kerusakan DNA menumpuk, mekanisme pembersihan sel melemah, dan risiko transformasi ganas menjadi lebih besar.
Puasa sebagai 'Rem Biologis'
Di sinilah puasa memainkan peran penting sebagai rem biologis alami. Saat kita berpuasa, terjadi perubahan fisiologis yang terukur:
Kadar insulin dan IGF-1 menurun.
Aktivitas mTOR ditekan.
AMPK (sensor energi sel) diaktifkan.
Sirtuin meningkat, mendukung stabilitas genom dan perbaikan DNA.
Baca tanpa iklan