News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Anak Didik Susah Belajar, Guru Bingung Mengajar

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi: Sejumlah siswa saat mengikuti kegiatan sekolah via daring (sekolah online) di Rumah Aspirasi, Jalan Tambak Asri 187, Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (13/10/2020). Rumah Aspirasi diinisiasi Puteri Indonesia 2014, Elvira Devinamira bersama adiknya, Shafira Novianti Adi. Surya/Ahmad Zaimul Haq

Kendala ini yang membuat proses pembelajaran menjadi tidak optimal dijalankan oleh para pengajar.

"Memang kemendikbud melakukan survei terkait PJJ. Salah satunya, kita dapatkan
60 persen guru kita punya permasalahan dalam pembelajaran IT," ungkap Praptono.

Baca juga: Nadiem Terima Keluhan Masyarakat Soal Borosnya Kuota Internet Selama PJJ

Praptono mengatakan Kemendikbud telah mencoba mencari solusi terhadap
kendala yang ditemui selama penerapan pembelajaran jarak jauh di masa pandemi.

"Seiring perjakanan waktu dan berbagai upaya dilakukan, misal dengan bantuan
kuota, kemudian bimbingan teknis kepada guru, portal guru belajar, menyiapkan
media bahan ajar, RPP, praktek baik, termasuk bantuan infrastruktur di sekolah,"
ujar Praptono.

Seiring berjalannya waktu, Praptono mengungkapkan akhirnya terjadi penambahan
pemahaman dan adaptasi guru terhadap pembelajaran jarak jauh yang berbasis
teknologi digital.

"Tren bahwa kemampuan guru untuk bisa take over kegiatan-kegiatan akibat pandemi menunjukkan tanda-tanda ke arah baik," pungkas Praptono.

Guru PJJ

Hasil survei Wahana Visi Indonesia dan Kemendikbud menunjukan mayoritas guru
di Indonesia lebih memilih model pembelajaran jarak jauh.

Education Team Leader Wahana Visi Indonesia Mega Indrawati mengatakan sebanyak 95 persen memilih pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran campuran.

"Soal strategi belajar dari 95 persen guru setuju akan pembelajaran jarak jauh atau
blended learning,"ucap Mega.

Guru di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T) lebih memilih pembelajaran jarak
jauh luring dibanding daring. Mega menduga hal ini kemungkinan karena
keterbatasan akses internet dan infrastuktur untuk pembelajaran secara daring.

"Sementara guru untuk anak berkebutuhan khusus cenderung memilih pembelajaran
daring," ujar Mega.

Selain itu, hasil survei ini juga menemukan bahwa guru dalam mengatasi masalah
dalam kegiatan belajar mengajar memilih berkonsultasi dengan teman sejawatnya di
satu sekolah atau sekolah lain.

Sementara guru di daerah 3T cenderung kurang
memiliki akses ke komunitas guru di satuan pendidikan.

Terkait dengan kebutuhan pembelajaran yang efektif, dan pemanfaatan teknologi
informasi, sebanyak 40 persen guru menyatakan butuh pelatihan.

"Terkait TIK, 40 persen guru 3T dan guru yang usianya lebih tua butuh pelatihan dasar TIK," kata Mega.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini