TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pembelajaran coding dan kecerdasan artifisial (AI) kini tak lagi bisa dipandang sebagai tren teknologi semata, tapi sudah menjadi kebutuhan untuk membangun generasi masa depan Indonesia yang cakap digital, adaptif, dan berpikir kritis sejak dini.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI melalui Direktorat Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Non-Formal (PNF) menyelenggarakan Pelatihan Calon Pelatih dalam Implementasi Berpikir Komputasional di PAUD, di Kudus, Jawa Tengah, pada Senin (27/10/2025).
Program pelatihan ini diikuti 38 peserta dari 15 provinsi di seluruh Indonesia — mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara — untuk memperdalam konsep berpikir komputasional dan mengintegrasikannya ke dalam kegiatan belajar anak usia dini.
Direktur Guru PAUD dan PNF Kemendikdasmen RI, Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D., menegaskan, dunia kerja di masa depan akan semakin bergantung pada kemampuan manusia dalam berpikir logis, analitis, dan sistematis — kemampuan dasar yang dibentuk melalui berpikir komputasional.
“Pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendasar dalam menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan,” tegasnya.
Menurut Suparto, peran guru PAUD menjadi sangat strategis karena merekalah yang menanamkan fondasi berpikir komputasional sejak dini, melalui cara belajar yang menyenangkan dan aplikatif.
“Pengembangan kapasitas guru menjadi prioritas nasional, karena di tangan mereka kemampuan berpikir terstruktur dan kreatif anak Indonesia mulai dibentuk,” tambahnya.
Pelatihan ini melibatkan delapan guru PAUD dari Kabupaten Kudus dan Kabupaten Sumbawa Barat, dua daerah yang telah menjadi pelopor penerapan berpikir komputasional di tingkat PAUD.
Proses penyusunan panduan dan modul pelatihan didampingi oleh Dr. Irma Yuliantina, M.Pd, Ketua Kelompok Kerja PAUD BAN PDM, serta direview oleh Tim Bebras Indonesia, jaringan internasional yang mempromosikan literasi berpikir komputasional.
Panduan hasil pelatihan ini akan dijadikan rujukan nasional bagi pelatihan serupa di seluruh Indonesia, agar model Kudus dan Sumbawa Barat bisa direplikasi di daerah lain.
Sejak 2023, lebih dari 700 kepala sekolah dan guru dari 211 satuan PAUD di Kudus telah mengintegrasikan berpikir komputasional melalui pendampingan Pusat Belajar Guru (PBG) Kudus dan dukungan Bakti Pendidikan Djarum Foundation.
Sementara di Kabupaten Sumbawa Barat, sebanyak 135 guru dan kepala sekolah dari 29 satuan PAUD juga telah melaksanakan pendekatan serupa dengan fasilitasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).
Baca juga: Mendikdasmen: Mata Pelajaran Coding dan AI Bakal Diterapkan di Sekolah Rakyat
Bupati Kudus, Dr. Ars. Sam’ani Intakoris, S.T., M.T., mengapresiasi pelatihan ini sebagai bentuk nyata sinergi lintas daerah dan lintas sektor dalam membangun kualitas guru dan anak usia dini.
“Semoga pelatihan ini menjadi bekal bagi guru PAUD di seluruh Indonesia untuk mengajarkan anak-anak cara berpikir komputasional. Kolaborasi antara pemerintah, dunia industri, dan lembaga pendidikan seperti ini perlu diteruskan,” ujarnya.
Pelatihan ini memang menjadi contoh ekosistem kolaboratif antara pemerintah pusat, daerah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha. Djarum Foundation dan Amman Mineral menjadi mitra penting dalam mendukung inisiatif pendidikan digital di level PAUD.
Berpikir Komputasional
Menurut Felicia Hanitio, Deputy Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, berpikir komputasional bukanlah pelajaran baru, melainkan pola berpikir terstruktur yang dapat dibangun melalui kegiatan sehari-hari anak.
“Berpikir komputasional bukan kurikulum, tapi kebiasaan berpikir logis dan kreatif. Bisa ditanamkan lewat aktivitas sederhana seperti cuci tangan, bermain balok, atau lompat karet — tergantung bagaimana guru memancing logika anak,” jelasnya.
Baca juga: Selain STEM+, Siswa Juga Perlu Kuasai Keterampilan AI Agar Lebih Kompetitif di Dunia Kerja
Felicia menegaskan, pendekatan ini terbukti meningkatkan kemampuan kognitif, sosial-emosional, dan motorik anak usia dini, seperti yang telah diterapkan secara konsisten di Kudus dan Sumbawa Barat.
Dukungan Dunia Industri
Priyo Pramono, Vice President Social Impact PT Amman Mineral Nusa Tenggara, menilai berpikir komputasional sebagai fondasi pembentukan SDM yang adaptif dan inovatif di era digital.
“Potensi berpikir komputasional semakin besar jika ditanamkan sejak dini. Dengan kolaborasi lintas provinsi seperti ini, kami berharap lahir generasi yang siap bersaing menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Selama pelatihan, selain mendapatkan teori, peserta juga praktik langsung di empat PAUD percontohan di Kudus yang telah mengimplementasikan berpikir komputasional secara konsisten.
Mereka diajak mengamati cara guru mengintegrasikan konsep logika berpikir dalam kegiatan bermain, seperti menyusun puzzle, merancang urutan kegiatan, hingga mengenali pola sederhana.
Para peserta program ini diharapkan menjadi trainer regional, yang akan melatih lebih banyak guru di daerah asalnya — menciptakan efek berantai untuk mempercepat penyebaran metode ini di seluruh Indonesia.
Baca tanpa iklan